New Hello

new hello.JPGSaat saya blogwalking, saya menemukan kalimat ini di blog nya mba cinta (mba cinta, ijin yaa capture hehe). Saya terdiam sejenak kemudian menghela nafas. Well, you did it yu, good job. Entahlah sudah ga ada bentuk nya lagi hati ini, mungkin seperti sisa remahan roti bretok favorit saya. Saya harus berani mengambil langkah yang gak pernah terpikirkan sebelumnya. Delapan tahun lima bulan sudah cukup buat saya dan terimakasih untuk semuanya. *mendadak melow*

Advertisements

Sabtu Bersama Bapak

Minggu ini saya menghabiskan waktu untuk membaca novel, Sabtu Bersama Bapak. How lovely it is. Gak tau suka banget sama novel ini. Give me another point of view tentang pasangan masa depan. Oke kalo masa kini jangan ditanya yaah. Awalnya saya berpikir bahwa pasangan ada untuk saling melengkapi kekurangan kita. And usually we call it as JODOH.

Pasangan itu terdiri dari dua orang yang solid dan saling menguatkan, bukan saling melengkapi kelemahan, dan menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing. Oke, sampe sini saya berpikir, well.. make sense, terlebih Taylor Swift pernah bilang, two is better than one. Haha. Seperti halnya, jika 3 dikurang 3 maka hasilnya akan menjadi 0, dan kamu hanya menghabiskan waktu sia sia dengan pasangan tanpa pencapaian apapun. Berbeda dengan jika 3 dikali 3 sama dengan 9. Is it more powerful right? And in the end, ditutup dengan quote dari Oprah Winfrey, Find someone who complementary not suplementary. Aaah, you are too sweet, Adhitya Mulya.

Novel ini juga menyampaikan tentang betapa pentingnya pendidikan karakter anak di usia emas. Anak tidak pernah meminta dilahirkan dari orangtua dengan latarbelakang seperti apa, sehingga hal itu semua menjadi tanggung jawab yang sangat penting bagi orangtua untuk mengantarkan anaknya di puncak kejayaannya nanti. Di zaman dimana kesetaraan gender yang sangat dijunjung tinggi, termasuk saya, yaitu perempuan berhak untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan puncak karir terbaik. Beberapa alasan pernah kita notice kenapa wanita ikut berkarir di luar rumah, menabtua perekonomian keluarga? Pengakuan diri? Namun, apakah bisa membentuk karakter anak di usia emas hanya dengan memantau perkembangan, memastikan apa saja yang dilakukan anak kita yang dipercayakan kepada baby sitter yang belum tentu sepenuh hati menjaga anak kita. Sampai pada bacaan itu, saya bertanya pada diri sendiri : would I be the best mother that my child ever had in the future? *Cari jodoh dulu ayuuuk, okesip*

sinopsis-dan-resensi-buku-sabtu-bersama-bapak

gambar diambil dari sini

Hampir Hijrah

Hallo..

Kali ini saya akan menceritakan sebuah pengalaman hampir hijrah saya. Kenapa hampir hijrah? Karena dari kata “hampir” itu sendiri yaitu mendekati atau nyaris saja. Hijrah disini silahkan artikan masing-masing, karena di kosa kata saya, hijarah disini yaitu berpindah dan lebih khususnya itu berpindah profesi.

Well, jika ditanya apa pekerjaan kamu sekarang apa bo? Dengan senyum mengembang saya akan menjawab, I am quality engineer. Memang kamu kuliah nya jurusan apa bo? Teknik Industri? *okay, could I skip that kind of question. Hahaha. Nah, jadi ceritanya di group saya ada postingan tentang lowongan guru di SMK tempat saya pernah menimba dulu. Saya merasa terpanggil Tsah. Karena sebagai alumni, saya ingin mengeshare ilmu yang sesuai background pendidikan saya dulu di bangku kuliah.

Tahap seleksi pun dimulai, Saya coba masukkan berkas lamaran melalui email, dan ternyata selang satu hari saya dipanggil untuk tahapan micro teaching. Omaigat, apa itu micro teaching? Saya merasa gak ada persiapan apa-apa, sudah lama ga menyentuh materi pelajaran masa kuliah apalagi SMK? Panik menyerang saya karena lebih tepatnya, saya mau ngapain di micro teaching, mau menjelaskan materi apa? Akhirnya, jatuh lah pilihan saya ke materi Teknik Digital, materi saat saya pernah menjadi asisten laboratorium di mata kuliah ini. Semoga ini masih relevan. Bismillah.

The day is coming. Saya deg-degan, karena pada dasarnya saya ga terlalu paham apa itu microteaching, teknik yang benar seperti apa, saya hanya bermodalkan youtube dan mbah google untuk mempelajari sedikit tentang apa itu microteaching, intinya microteaching itu merupakan simulasi proses kegiatan belajar mengajar di sebuah kelas. Dan nama saya dipanggil, saat saya masuk, saya langsung disambut oleh guru-guru saya yang sangat luar biasa, ada Pak Wasis, Pak Ade dan Guru favorit saya sepanjang masa, Pak Sukhendro. Dan saya pun terharu beliau-beliau ini masih ingat dengan saya. Whuaa bapak-bapak ini super keren banget. Saya gak menyangka bahwa ternyata diantara begitu banyak murid yang beliau ajar, semua masih mengingat saya. Proses microteaching pun selesai dan ada beberapa masukan dari Pak Wasis tentang metode microteaching yang saya bawakan, yaitu di akhir simulasi, sebaiknya dilakukan kesimpulan materi yang dibawakan serta pemberian tugas atau feedback dari murid yang diajarkan. Wah, saya bersyukur sekali dengan ilmu baru ini, karena background saya pure teknik dan karyawan, sehingga ini menjadi pengalaman baru bagi saya.

Pada malam hari, ternyata saya dikabari lagi bahwa saya lulus tahap microteaching dan saya diminta untuk mengikuti tahapan psikotes keesokan harinya. Akhirnya, saya pun ambil cuti sehari lagi, maafkan saya yah pak bos anak buahnya cuti mendadak 2 hari berturut-turut. Hehe. Proses psikotes ini seperti psikotes pada umumnya kok.

Pada saat saya menunggu pengumuman hasil psikotes, naasnya handphone saya LCD nya pecah karena terjatuh dan harus masuk service center selama kurang lebih seminggu, duh saya deg-degan karena saya gak punya handphone cadangan apapun. Hingga akhirnya handphone saya berfungsi normal lagi, sementara saya menggunakan handphone pinjaman teman saya. Dan sesaat setelah saya memasukkan SIM Card ternyata ada sms yang masuk, Alhamdulillah saya lolos tahap psikotes dan besok saya harus datang jam 9 pagi? Whats? Sekarang sudah jam 10 malam. Piye iki.. Yo wess Bismillah saja.

Hari itu masih minggu awal puasa, jadi saya berangkat dari cikarang menuju lokasi interview di jakarta barat sekitar jam 5 shubuh, sebenarnya saya agak worried bakal telat gak yaa, mengingat macet nya jakarta itu sangat tidak bisa terprediksi. Dan alhamdulillah, saya sampai jam setengah delapan pagi. Widiih, pagi banget haha. Akhirnya saya memutuskan untuk silaturahim ke tempat kosan saya dulu dan bude warteg langganan saya saat zaman ngekos SMK, jadi dulu karena posisi rumah saya saat itu di bekasi dan posisi sekolah saya di Jakarta Barat, belum ada commuter line (saat itu kereta saat itu stigma nya masih banyak copet, pengamen dan tukang jualan aneka macam jenis), dan bus juga masih jarang (antara 40 menit sekali hingga satu jam sekali), sehingga diputuskanlah saya ngekos, tapi seminggu sekali balik bawa pakaian kotor untuk dicuci haha.

Back to interview, waktu itu sudah menunjukkan jam setengah 9 pagi, sehingga saya memutuskan untuk balik lagi ke sekolah, karena ingin spare waktu untuk interview. Dan ternyata sudah ada empat orang yang menunggu. Semuanya berpengalaman menjadi guru, hanya saya sendiri dengan latar belakang bukan guru. Nama saya pun dipanggil, deg-degan banget. Dan ternyata interviewer adalah salah satu guru favorit saya, Pak Dading. Interview pun tak terasa seperti interview, beliau sangat terbaik dan terbuka sekali menceritakan kondisi dan gambaran jika saya menjadi guru nanti.

Dan tibalah pada tahap offering gaji, saya hampir tidak percaya karena offering yang ditawarkan ternyata dibawah UMR, bahkan jauh. Saya kaget. Di satu sisi, saya sangat ingin mengajar, namun di sisi lain saya harus tinggal di jakarta dan sewaktu-waktu saya harus siap membantu biaya kuliah adik saya di jogja. AAAAAARGH, jujur ini pilihan tersulit dan membuat perasaan saya galau tak karuan. Rasanya tak ingin memilih, karena khawatir salah pilih. ARGH! Saya bertanya lagi pada diri saya sendiri, apakah ini waktu yang tepat? apakah ini jalan yang benar? Saya mencoba untuk menelusuri kembali dan segera menelpon mamah dan menceritakan semua dengan detail tanpa ada satu pun yang terlewatkan. Mamah sepenuhnya menyerahkan pilihan kepada saya, namun saya masih saja belum yakin, apakah pilihan ini saya tepat? apakah pilihan yang ini merupakan yang terbaik? Hosh, Bismillah, saya memberanikan untuk menelpon Pak Dading, dan memutuskan untuk tidak melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Semoga ini yang terbaik, Bismillah!

tumblr_nmy1bt1fu81ut3fu8o1_400

Are you good listener?

Pertanyaan itu membuat saya ragu untuk menjawab nya. Karena selama ini saya merasa, saya bukanlah pendengar yang baik. Contohnya, saya sering ketiduran di kelas waktu kuliah kalo dosen nya itu bikin ngantuk. Hihi.

Sebenarnya pertanyaan ini makin sering jadi bahan koreksi diri saya sendiri. Karena saya dihadapkan memiliki rekan kerja wanita which is ga jauh-jauh dari rumpi yaa dan cerita tentang problematika kehidupan ini. Halah. Dasarnya saya memang cuek dan justru saya hanya tanggapi dengan senyuman saja atau hanya sekedar ikut bersimpati jika memang itu perlu. Karena sejujurnya, saya pun pernah mencoba untuk menanggapi sebisa saya *untuk hal yang belum pernah saya rasakan/alami* malah terkesan memaksakan dan saya menyesal setelah itu, kenapa mesti ngomong begini begitu..

Am I good listener? Sampe akhirnya, saya menemukan sebuah teori pendukung tentang apakah saya benar-benar pendengar yang baik atau tidak. Yailaaaaah.. Cuma quote aja dibilang teori pfft

“Before you speak,ask your self : Is it necessary ? is it true? Does it improve on the silence?” – Sai Baba of Shirdi

Mungkin ini sebenernya lebih ke porsi berbicara kita, namun saya rasa ini juga pas apabila kita dalam posisi sebagai pendengar. Saran kritik yang mungkin saat ini banyak kita terima, tergantung bagaimana kita melihat saran kritik seperti apa. Mungkin bahasa mereka yang terlalu pedas atau tidak enak didengar, namun semuanya kembali pada diri kita masing-masing. Apakah kita menerima atau tidak? Apakah itu akan menjadi perbaikan untuk diri kita atau menolak mentah-mentah tanpa mereview terlebih dahulu?

Semangat Selasa! Weekend dan gajian masih lama~~~~~~

a-good-listener-is-very-nearly-as-attractive-as-a-good-talker-you-cannot-have-a-beautiful-mind-if-you-do-not-know-how-to-listen

Enjoy Your Life

“Enjoy your life…
Jangan menikah cepat-cepat..”

Berikut sepenggal percakapan saya dengan expat, atasan yang diimport langsung dari korea, yang membuat saya tergelitik. Karena sejujurnya agak aneh saja, disaat sekitar saya menyarankan segera mempercepat. Toh gak baik kelamaan berpacaran, namun hal ini berbeda dengan expat saya.

Saya masih ga habis pikir, kenapa toh si expat bisa kepikiran ngomong kaya gitu haha. Hal ini juga menjadi oase disaat orang-orang di sekitar saya mulai sering mananyakan, jadi kapan menikah? Kapan lanjut S2? Kapan punya rumah? Kapan ini.. kapan itu.. hoeek

Enjoy your life. Yaaak, buat saya yang gak suka mematok dengan saklek kehidupan saya harus dengan pencapaian ini itu. Nyata nya membuat saya agak risih untuk menghadapi pertanyaan dan pernyataan sejenisnya. Saya yakin setiap umat memiliki rezeki masing masing. Namun bagaimana cara orang tersebut untuk menjemput rezeki masing masing. Biarkanlah tiap individu memiliki cara dan prinsip untuk menjemput rezeki yang telah Allah tetapkan sejak kita berada di dalam kandungan usia 4 bulan lebih 10 hari.

Jangan pernah takut atau khawatir ketika sesuatu yang kita inginkan belum juga terkabul. Karena bisa jadi apa yang kita inginkan itu gak baik buat kita. Setiap momen atau hal yang terjadi dalam hidup kita entah di tiap detik, tiap meter dan tiap gramnya hehe.. semua nya punya masing masing hikmah dan cerita dibalik kejadian yang terjadi. Maka enjoy every moment that happen in your life. Dont ever wasting your time to ask why and why. Yakin semua punya arti dibalik kesulitan bahkan kebahagiaan yang terjadi dalam hidup kita.

Sempat tergelitik dengan pernyataan umi astri ivo, “Beriman itu bukan hanya percaya pada Allah saja, kalo kaya gitu namanya iman di bibir saja, namun percayakan seluruh hidup kita ini kepada Allah”. Lalu pertanyaan selanjutnya muncul, sudah kah kita percayakan seluruh hidup kita ini kepada Allah?

Menyerah

Mungkin kata menyerah bukanlah hal yang diinginkan bagi setiap orang, cenderung menjadi momok yang menakutkan ketika kegagalan datang lagi dan lagi. Namun, kapan kah waktu yang ideal untuk menyerah? Mungkin banyak berpikir bahwa menyerah bukanlah suatu solusi, menyerah bukanlah jawaban dari segala keresahan jiwa dan menyerah bukanlah jawaban yang pantas ketika dalam berproses diri. Banyak mungkin yang tanpa sadar, termasuk saya, mengalami momen dimana menyerah. Namun setelah itu apa? Akan berdamai bahkan bershabatkah dengan menyerah itu atau mencoba bangkit dan melawan rasa ketakutan diri yang sebenarnya dapat kita lawan, singkirkan dan mungkin saja rasa ketakutan itu akan pergi. Mungkin. Entahlah.

Saya tertegun, di sudut kacamata saya sebagai pihak yang mengamati dan bukan terlibat secara aktif didalam kondisi tersebut, Saya melihat bagaimana seseorang yang telah menyerah, apaka Dia sudah berdamai dengan kondisi yang menyulitkan dilihat berbagai aspek, atau Dia sudah lelah dan dia pun menyerah. Sedih rasanya, mencoba untuk menyemangati dan memotivasi agar dia tidak menyerah, namun rupanya rasa ketakutan, kecemasan, dan keraguan yang menghinggapi sudah terlalu besar sehingga semua dianggap semu walaupun kesempatan untuk merubah itu nyata di depan mata.

Semoga semua ini jadi pelajaran untuk kita semua, bahwa semua perasaan negatif itu hanya akan mengkerdilkan diri kita sendiri. Bukan saya merasa sok suci, namun ini menjadi reminder bahkan tamparan untuk saya sendiri. Bahwa jangan pernah menyerah akan keadaan, manusia hanya bisa berusaha namun sisanya Allah yang menentukan. Dan yakinlah seluruh proses yang terjal dan berliku bahkan badai menerjang tidak akan pernah membohongi hasilnya. Mungkin hasilnya tidak seperti apa yang diinginkan, namun apakah kita siap ketika semua yang apa kita inginkan terkabul. Maka, apapun yang terjadi percayalah semua itu yang terbaik.

dibalikkesulitan

Marah

Pernah ga sih merasakan jika teman di sekitar kita yang terkesan paling sabar dan berubah seketika menjadi marah? Saya pun mengalaminya juga dan tentu saya kaget. Karena ternyata orang yang biasa nya sabar, namun ketika emosi nya memuncak maka berubah menjadi seperti orang lain. Mungkin hal ini juga terjadi sering kepada saya, karena tekanan dari atasan sangat tinggi, deadline yang begitu rapat serta kurang nya me-time, such as shopping, perawatan, traveling dan masih banyak lagi. Haha.

Tapi, jika ditelaah lagi, apakah perlu marah-marah untuk hal sesuatu yang sebenarnya merupakan tanggung jawab kita? Atau mungkin memang marah itu menjadi salah satu kebutuhan untuk melepaskan penat kita? Entah kenapa ketika saya melihat seseorang yang marah itu, terkesan berpikir pendek (no offense), karena setelah marah lalu apa? Bisa jadi kita menyakiti perasaan yang berada di sekitar kita karena ucapan yang kasar terlanjur keluar dari mulut kita tanpa kita bisa tarik kembali, atau lelah karena mengeluarkan beberapa kalori untuk menarik urat-urat di sekitar wajah untuk menunjukkan jika kita marah, atau ada pendapat lain kah?

Ini semua bukan berarti saya tidak pernah marah loh, bisa dibilang saya ini salah satu orang yang ekspresif loh hehe. Namun untuk mengeluarkan kata kasar ketika marah, seperti nya itu bukan tindakan bijak, karena bagaimanapun juga marah merupakan salah satu trik jitu dari para setan yang berusaha menambah dosa dan dia akan tertawa bahagia ketika kita masuk jebakan setan #randommind haha

 

angry-little-baby

Kalo Bayi yang marah sih lucu, kalo orang dewasa?? Haha