Penolakan

Mengahadapi penolakan berkali-kali itu mungkin terlihat biasa. Namun, percayalah rasanya sungguh ga enak. Iya, saya patah hati. Saya hanya bisa tertegun ketika nama saya tidak tertera pada hasil tahap akhir seleksi di suatu perusahaan yang saya inginkan. Tak terasa hangat di pipi mengalir begitu saja ketika saya menyatakan maaf kepada kedua orangtua saya. Karena saya tau ada rasa sedih disana.

Masa seperti ini seperti turning point saya untuk menyatakan bahwa saya tidak boleh kalah dengan keadaan. Saya harus tunjukkan bahwa mereka itu rugi tidak memilih saya karena mereka kehilangan orang cemerlang seperti saya. Haha. Ah, itu hanyalah sisi harga diri saya yang tidak terima menghadapi sebuah penolakan. Klasik.

Bagaimanapun juga, saya hanya ingin membahagiakan dan selalu membuat orangtua saya bangga atas segala hasil usaha saya. Mungkin ini memang bukan jalan yang terbaik buat saya, bahkan bisa jadi saya memang belum siap jika keinginan saya tersebut terkabul dengan seperangkat konsekuensi dan resiko yang akan saya hadapi di masa yang akan datang. Semangat Ayuk!

dp-bbm-allah-memberikan-apa-yang-kita-butuhkan-01

Gambar diambil dari sini 

Forget to Heals

Hosh.. saya lelah. Ketika saya sudah tidak sabar dengan seseorang maka saya bisa mengeluarkan emosi secara meledak dan setelah itu menguap. Hal ini terjadi baru pagi ini, ketika saya butuh support rekan saya, namun dengan mudah menjawab malas, susah dan masih banyak alasan lagi.

Saya sakit hati. Karena sebegitu mudah nya menjawab dengan enteng seperti itu padahal saya berharap lebih karena dia memiliki skill khusus yang kebanyakan orang tidak punya, dan yang terpenting saya sangat membutuhkan.  Ini menjadi pelajaran buat saya untuk lebih bijak menanggapi setiap permintaan tolong oranglain ketika kita tidak bisa atau kesulitan memenuhi permintaan itu. Dan tidak mudah meremehkan atau menganggap setiap permintaan tolong seseorang itu merupakan hal yang remeh.

Mungkin selama ini, lidah saya dengan mudah mengatakan hal yang mungkin menyakiti lawan bicara saya, sehingga ini menjadi pelajaran lagi dan lagi untuk saya. Well, Kebo you have to forget everyhting because it heals everyhting. Keep smile kebo 🙂

Are you good listener?

Pertanyaan itu membuat saya ragu untuk menjawab nya. Karena selama ini saya merasa, saya bukanlah pendengar yang baik. Contohnya, saya sering ketiduran di kelas waktu kuliah kalo dosen nya itu bikin ngantuk. Hihi.

Sebenarnya pertanyaan ini makin sering jadi bahan koreksi diri saya sendiri. Karena saya dihadapkan memiliki rekan kerja wanita which is ga jauh-jauh dari rumpi yaa dan cerita tentang problematika kehidupan ini. Halah. Dasarnya saya memang cuek dan justru saya hanya tanggapi dengan senyuman saja atau hanya sekedar ikut bersimpati jika memang itu perlu. Karena sejujurnya, saya pun pernah mencoba untuk menanggapi sebisa saya *untuk hal yang belum pernah saya rasakan/alami* malah terkesan memaksakan dan saya menyesal setelah itu, kenapa mesti ngomong begini begitu..

Am I good listener? Sampe akhirnya, saya menemukan sebuah teori pendukung tentang apakah saya benar-benar pendengar yang baik atau tidak. Yailaaaaah.. Cuma quote aja dibilang teori pfft

“Before you speak,ask your self : Is it necessary ? is it true? Does it improve on the silence?” – Sai Baba of Shirdi

Mungkin ini sebenernya lebih ke porsi berbicara kita, namun saya rasa ini juga pas apabila kita dalam posisi sebagai pendengar. Saran kritik yang mungkin saat ini banyak kita terima, tergantung bagaimana kita melihat saran kritik seperti apa. Mungkin bahasa mereka yang terlalu pedas atau tidak enak didengar, namun semuanya kembali pada diri kita masing-masing. Apakah kita menerima atau tidak? Apakah itu akan menjadi perbaikan untuk diri kita atau menolak mentah-mentah tanpa mereview terlebih dahulu?

Semangat Selasa! Weekend dan gajian masih lama~~~~~~

a-good-listener-is-very-nearly-as-attractive-as-a-good-talker-you-cannot-have-a-beautiful-mind-if-you-do-not-know-how-to-listen

Apa sih yang salah?

Bagi saya punya sifat yang setengah ekstrovert dan setengah introvert alias ambivert ini kadang memerlukan “me time” seperti nonton film sendirian. Minggu kemarin saya baru saja nonton film Batman V Superman SENDIRIAN banget. Hihi. Dan hal itu saya ceritakan kepada sahabat saya, ami. Dia pun terkejut karena saya nonton sendirian, terkesan ga punya temen, ujarnya. Dan dia meminta untuk memberitahukannya jika ingin menonton tapi ga ada teman nonton.

Apa sih yang salah? Karena menurut saya, menonton sendirian itu lebih bisa mengefektifkan waktu sendiri. Kenapa? Pernah gak sih nunggu lama karena kita harus nungguin seseorang yang janji nya dateng jam sekian, tapi ternyata ngaret sampe film nya udah main dari 30 menit yang lalu, males banget kaaan. pfft. Terus, apalagi yaaaa, hoiya waktu sholat juga lebih efektif karena jika waktu nonton nya mempet dengan adzan, kita bisa mengatur berapa lama untuk sholat sebelum film mulai. Dan yang lebih utama adalah saya bisa memilih tontonan kesukaan saya tanpa takut merasa ga enak karena teman nonton saya ga suka sama film yang saya ingin tonton. Contohnya, nanti tanggal 15 april akan ada filmnya Shah Rukh Khan yang judulnya FAN.. aaaaaaak gak sabar nunggu film nya di CGV groups wohooooooooo! Hahaha

Menurut temen-temen, ada yang salah gak sih kalo nonton sendirian? hmm

 

 

Ternyata, Sudah Sampai Fase ini..

Hallo blog!

Memiliki seorang sahabat yang dulunya sangat dekaaat jaraknya dengan kita, hingga kita mengetahui sendiri perubahan pola pikir nya sedikit demi sedikit, maka tanpa disadari telah beranjak dewasa baik dari perilaku maupun pola pikir. Namun, apa yang terjadi jika kamu terpisah jarak yang cukup jauh dengan  sahabat kamu sehingga bertemu merupakan sebuah momment spesial bagi kamu dan sahabat kamu?

Lingkungan, ternyata faktor ini merupakan faktor yang paling kuat membentuk pola pikir seseorang. Hal ini tanpa disadari terjadi dengan saya dan sahabat saya, onta. Kami memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda setelah lulus dari SMK. Saya memilih untuk melanjutkan kuliah reguler, sedangkan onta memilih untuk kerja sambil kuliah, how the great woman she is.

Semasa saya kuliah, kami pun masih ‘haha hihi’ dan sering bertemu karena pacarnya onta berkuliah di tempat yang sama dengan saya. Sehingga ada waktu tertentu untuk onta mengunjungi Bandung dan menginap di tempat saya  dan kami bisa bercerita sampai gak sadar kalo sudah dini hari. Yup, beginilah kami, jarang sms, chat ataupun telpon, tapi kalau sudah ketemu langsung bisa sampai lupa waktu. *rumpi ne* haha

Hingga saya menerima kabar bahwa onta dan pacarnya harus putus, saya ikut sedih dan kecewa kenapa sang lelaki memutuskan kisah kasih mereka yang telah terjalin selama empat tahun itu. Namun, setiap kejadian yang menyulitkan tersebut pasti ada suatu kemudahan dan hikmah dibalik itu semua. Saya pun sesekali mengunjungi rumah onta di bekasi, kali ini hanya ingin jadi pendengar saja tanpa harus berusaha memberikan nasihat layaknya seseorang yang ahli dalam menangani patah hati, karena kalo saya berkaca dengan hubungan saya pun jauh dari kata sempurna, putus-nyambung huft.

Onta pun berhasil melalui masa-masa sulit alias move on. Yeay! Dan dalam jangka waktu yang singkat, onta dekat dengan seorang lelaki yang jarak usia nya sekitar 5-6 tahun  dari nya. Usia yang cukup matang bagi seorang lelaki untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Hingga onta pun mengutarakan niatnya untuk menikah, entah darimana tekad yang begitu membara tersebut. Sejujurnya, niat onta ini jauh dari nalar saya,bagaimana bisa kami bersahabat namun untuk membicarakan hal sensitif ini untuk beberapa orang, tidak termasuk saya, kami memiliki sudut pandang yang berbeda untuk ‘menyegerakan’ menikah.  Saya pun menyadari, mungkin memang lingkungan onta yanng telah membentuk pola pikirnya yang kekana-kanankan itu berubah menjadi wanita yang dewasa seutuhnya atau mungkin dia memang telah bertemu jodohnya, sehingga begitu mantap ia membicarakan ini semua dengan saya. Semoga niat mu ini diberi kemudahan ya onta 😀 Aamiin ya Rabb ({})