Ternyata, Sudah Sampai Fase ini..

Hallo blog!

Memiliki seorang sahabat yang dulunya sangat dekaaat jaraknya dengan kita, hingga kita mengetahui sendiri perubahan pola pikir nya sedikit demi sedikit, maka tanpa disadari telah beranjak dewasa baik dari perilaku maupun pola pikir. Namun, apa yang terjadi jika kamu terpisah jarak yang cukup jauh dengan  sahabat kamu sehingga bertemu merupakan sebuah momment spesial bagi kamu dan sahabat kamu?

Lingkungan, ternyata faktor ini merupakan faktor yang paling kuat membentuk pola pikir seseorang. Hal ini tanpa disadari terjadi dengan saya dan sahabat saya, onta. Kami memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda setelah lulus dari SMK. Saya memilih untuk melanjutkan kuliah reguler, sedangkan onta memilih untuk kerja sambil kuliah, how the great woman she is.

Semasa saya kuliah, kami pun masih ‘haha hihi’ dan sering bertemu karena pacarnya onta berkuliah di tempat yang sama dengan saya. Sehingga ada waktu tertentu untuk onta mengunjungi Bandung dan menginap di tempat saya  dan kami bisa bercerita sampai gak sadar kalo sudah dini hari. Yup, beginilah kami, jarang sms, chat ataupun telpon, tapi kalau sudah ketemu langsung bisa sampai lupa waktu. *rumpi ne* haha

Hingga saya menerima kabar bahwa onta dan pacarnya harus putus, saya ikut sedih dan kecewa kenapa sang lelaki memutuskan kisah kasih mereka yang telah terjalin selama empat tahun itu. Namun, setiap kejadian yang menyulitkan tersebut pasti ada suatu kemudahan dan hikmah dibalik itu semua. Saya pun sesekali mengunjungi rumah onta di bekasi, kali ini hanya ingin jadi pendengar saja tanpa harus berusaha memberikan nasihat layaknya seseorang yang ahli dalam menangani patah hati, karena kalo saya berkaca dengan hubungan saya pun jauh dari kata sempurna, putus-nyambung huft.

Onta pun berhasil melalui masa-masa sulit alias move on. Yeay! Dan dalam jangka waktu yang singkat, onta dekat dengan seorang lelaki yang jarak usia nya sekitar 5-6 tahun  dari nya. Usia yang cukup matang bagi seorang lelaki untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Hingga onta pun mengutarakan niatnya untuk menikah, entah darimana tekad yang begitu membara tersebut. Sejujurnya, niat onta ini jauh dari nalar saya,bagaimana bisa kami bersahabat namun untuk membicarakan hal sensitif ini untuk beberapa orang, tidak termasuk saya, kami memiliki sudut pandang yang berbeda untuk ‘menyegerakan’ menikah.  Saya pun menyadari, mungkin memang lingkungan onta yanng telah membentuk pola pikirnya yang kekana-kanankan itu berubah menjadi wanita yang dewasa seutuhnya atau mungkin dia memang telah bertemu jodohnya, sehingga begitu mantap ia membicarakan ini semua dengan saya. Semoga niat mu ini diberi kemudahan ya onta 😀 Aamiin ya Rabb ({})