Teman Curhat

Wanita tanpa curhat, bagai sayur tanpa garam yaaah.. Berasa hampa hidup ini Tsah! Cuma mungkin klasifikasi dan frekuensi curhat nya itu mungkin bisa jadi yang berbeda-beda. Ada yang mungkin ga puas kalo curhat sekali aja alias berkali-kali sampe hati rasanya legaaaa banget *ngaca yuuu ngaca! hahaha* atau mungkin ada yang cukup sekali ajah. Hayoo kamu masuk ke tipe mana? Atau ga pernah curhat sama sekali hmm..

Nah kali ini saya akan membahasa tentang teman curhat saya yang paling everlasting hahaha.. Dan saya berikan award sebagai partner curhat kebomandi yang paling everlasting adalaah… jeng jeng jeng…

Mamah kebo dan Bapak Kebo

Berada di urutan pertama, yaaa jelas aja karena mereka berdua ini yang kebo pertama kali kenal di dunia ini. Bawaan nya kangen mulu sama mereka, karena saya ini anak perantau sejak kuliah, terpisah jarak cukup jauh, Bandung – Kuningan. Dan sekarang kerja pun begitu Cikarang – Kuningan. Sebenernya kalo porsi curhat kepada orang tua ini tentunya ga usah ditanya lah yaa pasti yang menang yaitu Mamah Kebo. Kalo Bapak Kebo cenderung ke kerjaan sih sebenernya, karena beliau backgroundnya sebagai Human Resource jadi yaaa kalo ada kesel-kesel sama pak bos atau nanya gimana sih sebenernya porsi kerjaan yang benar, tanyakan pakarnya hehehe.

DSC_0409

Onta

Onta ini merupakan sahabat kebo sejak SMK, kalo dipikir-pikir kita longlasting juga yaaaa, 9 tahun boook. Mulai dari nangis, ketawa, khilaf dan lain lain kayanya udah dicobain deh bareng onta ini. Kalo diliat dari sifat jauh beda banget. hahaha. tapi mungkin itu kali yaaa yang bikin kita klop. Keunikan dari kita apa yaaa, masih sering saling nginep kali yaaaa, kepikiran aja sih kalo udah nikah nanti, apa bisa masih nginep gitu yaa hihihi.

32113_1399474639645_1615662726_918180_4074305_n

Photo with Onta waktu zaman SMK hihihi 

Mas Kebo

mas kebo ini adalah palumagada buat saya. “apa yang lo mau gue ada” hahaha. saat ini mas kebo menjadi konsultan pribadi untuk masalah hati dan keuangan, *ps : saya ini boros banget* Hal-hal yang tidak bisa saya ceritakan langsung kepada orangtua saya, karena takut mamah dan bapak yang akan super worried kalo anak perantau nya ini kenapa-kenapa, saya ceritakan ke mas kebo. Dan alhamdulillah mas kebo ini super sabaaaaar yah. Yang kuat yah mas! hahaha.

DSC_1301

Saya merupakan tipe orang yanng tidak bisa memendam keluh kesah sendirian, jadi yaaa harus diungkapkan secara langsung, supaya bisa lega dan clear. Hmm.. ini sebenernya tulisan apa sih? *baru sadar setalah jadi beberapa paragraf* hahahah

Komitmen?

Hmm.. Sejujurnya, saya lagi bertanya-tanya tentang apa itu komitmen sesungguhnya. Karena sampai saat ini saya tidak memiliki dasar tentang apa itu komitmen dan harus bagaimana komitmen itu berjalan. Semua terlihat bias dimata saya. Hingga akhirnya, saya ditempatkan pada posisi yang membingungkan, apakah ini komitmen atau hanya keinginan belaka untuk memiliki?

Selama ini saya selalu berpikir bahwa komitmen itu harus fokus pada suatu hal secara konsisten. Namun, hal ini tergelitik karena novel Supernova, karangan Dee. Novel yang membuat saya mikir ulang tentang apa itu komitmen. Apakah komitmen itu memang harus konsisten selama proses mencapai akhir? Tapi, manusia kan tempat khilaf segala-galanya, kadang bener kadang gak, kadang inget kadang gak. Pokoknya manusia itu makhluk paling tidak bisa terprediksi atas segala complicatednya pikiran mereka. Jadi, kok ya banyak sih pasangan hidup yang berpuluh-puluh tahun hidup bersama, mereka emang ga bosen atau jengah dengan komitmen yg selama ini dijalani?

According to the novel supernova yang baru saya baca minggu lalu, itu semua gara-gara gagal nonton filmnya dan orang-orang bilang bagus, jadi penasaran. Novelnya menceritakan tentang perempuan bernama Rana, she’s married dan dia terjebak cinta terlarang dengan pria sukses dan single, Re. Rana pun merasa keputusannya menikahi Arwin terlalu terburu-buru karena dia baru menemui sosok yang selama ini dicarinya, yaitu Re. Hingga singkat cerita Arwin, Suami Rana, mengetahui kelakuan minus istrinya. Bayangkan wahai kalian para suami/istri kalian ngeliat dengan mata kepala sendiri istri/suami kalian selingkuh! BAH!

Dan gak nyangkanya, di cerita ini, Arwin memeluk Rana dan bilang, “Aku merasakan sakit ternyata selama ini aku tidak bisa membuatmu bahagia selama kau menikah denganku. Dan aku bahagia melihatmu bisa tertawa lepas bersama lelaki itu. Kau bebas Rana!”. And what do you think about what Rana does after her husband tell that statement? Running away to Re? Dan jawabannya adalah BIG no! Justru Rana langsung memeluk Arwin dan kembali. That’s it!

Arwin bisa sebegitu gampangnya ngomong kalo dia merelakan Rana untuk bersama Re. Apakah itu tahapan cinta dimana melihat orang yang dicintai bahagia walaupun bersama orang lain? Padahal Arwin dan Rana telah berkomitmen, apakah dengan sebegitu mudahnya melepaskan begitu saja Rana untuk bersama Re? Dan itu yang selama ini bikin pertanyaan besar dalam diri gue, Apakah sudah siap dengan Komitmen?

ini ada quotes tentang komitmen. what do you think?