[Fan Fiction] Lia dan Dilan

Sebenernya ga tau sih, ini termasuk fan fiction atau gak? haha. Karena emang pengen nulis semacem cerpen, tapi ga tau mau pake nama tokohnya siapa. Jadi berhubung saya habis baca novel trilogi nya Dilan dan Milea, akhirnya nama tokohnya saya comot (re: ambil). Hmm, pure banget ini iseng ditengah saya kerja di weekend seperti ini, jadi pasti cerita ngalor ngidul ga jelas. Dan rasanya sayang aja kalo ga di posting. Hehe *banci posting*

***

Lia, perempuan, 24 tahun, Quality Engineer di salah satu perusahaan multinasional company. Hari ini otaknya hampir meledak karena issue yang sedang happening mengenai handphone series terbaru yang defect nya bisa lolos hingga market dan ini serius.

“Yaa.. Lia ada email dari HQ. Haish! Follow Up segera! Pali-pali (cepat-cepat)”, teriak Mr Kim yang mulai panik karena sejujurnya issue ini sudah mencoreng citra perusahaan yang katanya merajai pasar gadget di seluruh dunia. Bagaimana tidak, handphone yang digadang-gadang menjadi produk unggulan kini, ternyata battery nya bisa meledak di costumer. Ini gila.

“OK sir”, gusar Lia. Dia tidak begitu suka ketika bos yang langsung di import dari korea ini mulai disergap rasa panik berlebih. Maka pelampiasannya yaitu kroco level staff seperti Lia ini.

Info tambahan mengenai Lia, she’s still single dan jangan tanya tentang jodoh. Kok orangtua gak nanyain sih? Hampir setahun terakhir ini Lia memutuskan jarang pulang ke rumahnya, karena bosan ditanya kapan kawin.

***

Ditengah analisis data quality outgoing yang sudah membuat kepala mau pecah, ada pesan masuk di handphone yang sudah mulai banyak sarang laba-laba saking sepinya,

“Lia”

Dilan? Ada Apa yah? Lia tersenyum sejenak saat membuka pesan dari sahabat kuliahnya dan memang sudah lama  mereka tidak bertemu karena Dilan bekerja di Jakarta.

“Hey”

“Lagi dimana?”

“Biasa lah. Dimana lagi cuy! Masih terjebak gue di kota penuh polusi pabrik”

“Gue di Cimahi”

What? Dilan di Cimahi. Goodnews.

***

“Lia, draft quality meeting sudah?”

“siap bos! Monggo check dulu emailnya! Hihi”

“oh, udah kirim yaaa.. haha.. sorry sorry”, Pak Fandi, supervisor favorit Lia. Pak Fandi ini sangat berjasa buat Lia karena dari beliau Lia bisa belajar banyak hal yang sebenarnya pekerjaan ini tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan Lia sebelumnya. Namun, Pak Fandi dengan sabar menjadi mentor Lia selama menjadi karyawan baru.

Tiba-tiba ada pesan masuk di handphone Lia,

“Lia.. Meet up yuk hari ini”

“Hmm. You know, gue di bojongsoang, mobil ga ada, pacar ga punya, dan tinggal di daerah pinggiran. Huhu”

“Haha. Oke, kita meet up yaa? Pulang kantor dari Cimahi gue meluncur ke sana ya.”

Lia tersenyum sinis. Mana mungkin ada manusia normal yang mau pergi dari Cimahi ke Bojongsoang hanya untuk sekedar meet up. Belum lagi jarak yang harus ditempuh jauh sekali dan macetnya yang ga akan pernah ada obatnya.

“Lia, dimana?”

“Heh? Seriusan ke sini? Kirain bercanda. Haha”

Dilan, selalu menjadi seseorang paling nyaman buatnya. Pertemuan awal mereka saat tingkat satu, mereka bergabung di sebuah organisasi bidang pengembangan masyarakat. Awal pertemuan mereka, Lia dan Dilan sama-sama mencalonkan menjadi koordinator di divisi yang sama. Dan mereka semakin dekat karena segudang kegiatan sosial yang menjadi projek bersama mereka.

***

Lia selalu senang jika bertemu dengan Dilan, karena pasti ada kejutan yang akan diceritakan oleh masing-masing. Mereka memiliki alasan kenapa momen meet up selalu jadi hal yang paling ditunggu-tunggu. Lia senang disamping Dilan karena selalu mau mendengarkan cerita A-Z yang mungkin tidak bisa diceritakan Lia dengan mudah kepada siapapun. Begitupun Dilan, selalu suka sosok Lia yang selalu riang dan menghangatkan suasana.

“Lia, Gue mau nikah bulan depan”, Dilan memecah keheningan.

“HAH? Bercanda lo HAHAHA”, masih menganggap apa yang diutarakan Dilan itu hanya sekedar candaan.

“Bahkan diri Gue sendiri aja ga percaya kalo bulan depan Gue kawin. Hahaha.”, Dilan menatap keluar mobil, matanya terlihat berkaca-kaca.

Lia memeluk Dilan. “Gue belum pernah tau sih, gimana posisinya jadi lo. Semoga ini bisa membuat lo nyaman ya!”

“Lia, I Love you”

“Ssst.. Just Relax, This is the outside of the world! Haha”, kedip Lia.

Lia menyadari ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Dilan. Lia harus melepas Dilan.

Dilan, I Love you too..

Sabtu Bersama Bapak

Minggu ini saya menghabiskan waktu untuk membaca novel, Sabtu Bersama Bapak. How lovely it is. Gak tau suka banget sama novel ini. Give me another point of view tentang pasangan masa depan. Oke kalo masa kini jangan ditanya yaah. Awalnya saya berpikir bahwa pasangan ada untuk saling melengkapi kekurangan kita. And usually we call it as JODOH.

Pasangan itu terdiri dari dua orang yang solid dan saling menguatkan, bukan saling melengkapi kelemahan, dan menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing. Oke, sampe sini saya berpikir, well.. make sense, terlebih Taylor Swift pernah bilang, two is better than one. Haha. Seperti halnya, jika 3 dikurang 3 maka hasilnya akan menjadi 0, dan kamu hanya menghabiskan waktu sia sia dengan pasangan tanpa pencapaian apapun. Berbeda dengan jika 3 dikali 3 sama dengan 9. Is it more powerful right? And in the end, ditutup dengan quote dari Oprah Winfrey, Find someone who complementary not suplementary. Aaah, you are too sweet, Adhitya Mulya.

Novel ini juga menyampaikan tentang betapa pentingnya pendidikan karakter anak di usia emas. Anak tidak pernah meminta dilahirkan dari orangtua dengan latarbelakang seperti apa, sehingga hal itu semua menjadi tanggung jawab yang sangat penting bagi orangtua untuk mengantarkan anaknya di puncak kejayaannya nanti. Di zaman dimana kesetaraan gender yang sangat dijunjung tinggi, termasuk saya, yaitu perempuan berhak untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan puncak karir terbaik. Beberapa alasan pernah kita notice kenapa wanita ikut berkarir di luar rumah, menabtua perekonomian keluarga? Pengakuan diri? Namun, apakah bisa membentuk karakter anak di usia emas hanya dengan memantau perkembangan, memastikan apa saja yang dilakukan anak kita yang dipercayakan kepada baby sitter yang belum tentu sepenuh hati menjaga anak kita. Sampai pada bacaan itu, saya bertanya pada diri sendiri : would I be the best mother that my child ever had in the future? *Cari jodoh dulu ayuuuk, okesip*

sinopsis-dan-resensi-buku-sabtu-bersama-bapak

gambar diambil dari sini

Dilan, Aku Jatuh Cinta Padamu

“Angin, untuk meniup rambutmu. Aku, untuk mencintaimu.”

Dan akhirnya saya jatuh cinta lagi kepada nya, Dilan. Sosok fiksi yang entah kenapa begitu berkesan. Mungkin karena saya kurang piknik kali yaaa sehingga saat membaca buku fiksi tentang percintaan masa SMA, saya sudah sangat bahagia.

Saya pun tidak paham, apa bagusnya buku ini. Buku ini hanya bercerita tentang kisah percintaan zaman SMA, dimana sepasang remaja sedang jatuh cinta dengan setting tahun 90’an, masih belum ada gadget dan masih menggunakan telpon rumah jika ingin menghubungi pacar. Hmm.. Kamu kangen yuu.. Kangen akan masa-masa percintaan pada zaman sekolah dulu, begitu jujur, simpel dan natural tanpa memikirkan ini itu khas anak SMA.

Novel besutan pidi baiq ini sangat ringan, honestly saya hanya baca novel ini kurang dari sehari. Tapi, menurut saya penulis bisa membawa kita berada di masa itu, dan setting Bandung.. aaaah memang ga ada matinya yaaah kalo tentang bandung. Mungkin karena saya pernah tinggal selama 4 tahun sehingga saat diceritakan Bandung masa itu entah kenapa imajinasi itu menyala di pikiran saya. Dan saya ingin juga merasakan Bandung tempo dulu. Bandung yang romantis bahkan hanya duduk di warung kopi. Haha.

Oke, back to the reality ayu! Hahaha. Tapi, buku ini emang bagus untuk selingan menurut saya disaat jenuh sama deadline report dan summary di kantor. Entah kenapa novel ini memberikan ruang baru buat saya untuk tersenyum karena mengingatkan saya saat jatuh cinta pada masa SMA.

Dilan, aku jatuh cinta padamu.

Dilan

Komitmen?

Hmm.. Sejujurnya, saya lagi bertanya-tanya tentang apa itu komitmen sesungguhnya. Karena sampai saat ini saya tidak memiliki dasar tentang apa itu komitmen dan harus bagaimana komitmen itu berjalan. Semua terlihat bias dimata saya. Hingga akhirnya, saya ditempatkan pada posisi yang membingungkan, apakah ini komitmen atau hanya keinginan belaka untuk memiliki?

Selama ini saya selalu berpikir bahwa komitmen itu harus fokus pada suatu hal secara konsisten. Namun, hal ini tergelitik karena novel Supernova, karangan Dee. Novel yang membuat saya mikir ulang tentang apa itu komitmen. Apakah komitmen itu memang harus konsisten selama proses mencapai akhir? Tapi, manusia kan tempat khilaf segala-galanya, kadang bener kadang gak, kadang inget kadang gak. Pokoknya manusia itu makhluk paling tidak bisa terprediksi atas segala complicatednya pikiran mereka. Jadi, kok ya banyak sih pasangan hidup yang berpuluh-puluh tahun hidup bersama, mereka emang ga bosen atau jengah dengan komitmen yg selama ini dijalani?

According to the novel supernova yang baru saya baca minggu lalu, itu semua gara-gara gagal nonton filmnya dan orang-orang bilang bagus, jadi penasaran. Novelnya menceritakan tentang perempuan bernama Rana, she’s married dan dia terjebak cinta terlarang dengan pria sukses dan single, Re. Rana pun merasa keputusannya menikahi Arwin terlalu terburu-buru karena dia baru menemui sosok yang selama ini dicarinya, yaitu Re. Hingga singkat cerita Arwin, Suami Rana, mengetahui kelakuan minus istrinya. Bayangkan wahai kalian para suami/istri kalian ngeliat dengan mata kepala sendiri istri/suami kalian selingkuh! BAH!

Dan gak nyangkanya, di cerita ini, Arwin memeluk Rana dan bilang, “Aku merasakan sakit ternyata selama ini aku tidak bisa membuatmu bahagia selama kau menikah denganku. Dan aku bahagia melihatmu bisa tertawa lepas bersama lelaki itu. Kau bebas Rana!”. And what do you think about what Rana does after her husband tell that statement? Running away to Re? Dan jawabannya adalah BIG no! Justru Rana langsung memeluk Arwin dan kembali. That’s it!

Arwin bisa sebegitu gampangnya ngomong kalo dia merelakan Rana untuk bersama Re. Apakah itu tahapan cinta dimana melihat orang yang dicintai bahagia walaupun bersama orang lain? Padahal Arwin dan Rana telah berkomitmen, apakah dengan sebegitu mudahnya melepaskan begitu saja Rana untuk bersama Re? Dan itu yang selama ini bikin pertanyaan besar dalam diri gue, Apakah sudah siap dengan Komitmen?

ini ada quotes tentang komitmen. what do you think?