25!

Luka masih terasa, namun apakah gue harus terus merasakan dan mengingat luka itu? Hingga hari ini gue bersyukur banget dikelilingi dengan orang-orang yang selalu me-support gue pada saat titik terendah gue. Entah jadi apa gue sekarang kalo tanpa mereka semua.

Gue masih ingat di malam saat itu menjadi momen terakhir gue bersama nya, gue ngerasa malu banget, malu karena gue baru sadar bahwa gue udah terlalu jauh banget sama Allah. Mungkin gue bisa dikatakan tersesat, tapi Allah masih sayang banget sama gue, i know that. Gue diperlihatkan dengan gamblang nya bahwa selama ini gue salah melangkah, gue terlalu mudah bergantung pada seseorang, hingga gue lupa tempat gue bergantung seharusnya.

Sampai hari itu tiba, gue nangis sejadi-jadinya karena semua perasaaan, impian dan harapan gue dalam waktu sangat singkat harus diobrak-abrik oleh rasa kecewa gue yang gak tau apakah gue mampu melawan itu semua. Apakah gue masih bisa kembali kepada Allah?

Hingga suatu saat, gue denger ceramah nya ust. Hanan Attaki, sepotong banget gue denger namun itu jelas merubah cara berpikir gue sebagai hamba yang mendamba sekali pintu taubat-Nya. Kurang lebih potongan ceramahnya, “Allah tidak pernah putus asa memberikan ampun kepada hamba-Nya, namun kitalah hamba-Nya yang berputus asa meminta ampunan.”

Iya, gue berada di posisi itu, gue berputus asa meminta ampunan dan pintu taubat-Nya. Gue ga boleh lama-lama berada di posisi seperti ini. Gue mungkin telah kehilangan semuanya, tapi gue masih punya Allah, keluarga dan sahabat yang selalu ada. Dan gue yakin, Allah tidak akan memberikan cobaan atau ujian di luar kemampuan hamba itu sendiri.

Saat ini gue juga masih dalam masa transisi juga kok, gue yakin perlahan-lahan hal ini bisa terlewati semuanya, tulisan ini juga baru bisa gue buat sekarang semenjak kejadian di akhir maret lalu. Gue hanya ingin memberi semangat buat yang merasakan hal yang sama dengan gue. Mungkin bagi yang belum mengalami ini atau pernah mengalami lebih dari ini, hal yang gue rasakan ini gak ada apa-apa nya. Tapi, gak ada salah nya toh saling menyemangati bahwa kita semua pasti bisa melewati semua nya dengan well done, dan selalu berpikir positif bahwa Allah punya skenario terindah buat tiap Hamba-Nya, karena Allah mengikuti prasangka hamba-Nya. Hwaiting!

And Alhamdulillah for this beauty age, 25!

Advertisements

Penolakan

Mengahadapi penolakan berkali-kali itu mungkin terlihat biasa. Namun, percayalah rasanya sungguh ga enak. Iya, saya patah hati. Saya hanya bisa tertegun ketika nama saya tidak tertera pada hasil tahap akhir seleksi di suatu perusahaan yang saya inginkan. Tak terasa hangat di pipi mengalir begitu saja ketika saya menyatakan maaf kepada kedua orangtua saya. Karena saya tau ada rasa sedih disana.

Masa seperti ini seperti turning point saya untuk menyatakan bahwa saya tidak boleh kalah dengan keadaan. Saya harus tunjukkan bahwa mereka itu rugi tidak memilih saya karena mereka kehilangan orang cemerlang seperti saya. Haha. Ah, itu hanyalah sisi harga diri saya yang tidak terima menghadapi sebuah penolakan. Klasik.

Bagaimanapun juga, saya hanya ingin membahagiakan dan selalu membuat orangtua saya bangga atas segala hasil usaha saya. Mungkin ini memang bukan jalan yang terbaik buat saya, bahkan bisa jadi saya memang belum siap jika keinginan saya tersebut terkabul dengan seperangkat konsekuensi dan resiko yang akan saya hadapi di masa yang akan datang. Semangat Ayuk!

dp-bbm-allah-memberikan-apa-yang-kita-butuhkan-01

Gambar diambil dari sini