Sepucuk Surat (30-12-2018)

Hai.

Semoga kamu selalu sehat dan selamat ya atas pernikahannya. Kurang lebih 2 tahun ini, aku banyak merenung tentang memaafkan diri sendiri dan berdamai dengan keadaan aku saat ini.

Dan rasanya aku juga harus memberanikan diri untuk meminta maaf atas semuanya. Kesalahan yang sudah membuat kita saling melukai di masa lalu. Dan berharap semoga kamu bahagia dengan pilihan hidup mu dan selalu menjadi seseorang yang selalu sabar untuk memahami pasangannya, sama seperti dulu.

Banyak hal yang aku pelajari bersama kamu selama delapan tahun kita bersama. Terimakasih pernah menjadi yang paling aku andalkan, terimakasih juga sudah sabar menghadapiku, terimakasih sudah mau menemaniku disaat tersulit, dan rasa syukurku yang tidak pernah kusangka banyak kebahagiaan yang aku dapatkan bersama kamu. Ohiya, salam juga yaa buat Ibu dan ayah, aku kangen ngobrol sama mereka.

Aku berharap kamu bahagia dengan istrimu. Selamat ya atas pernikahanmu, Samawa.

Bekasi, 30-12-2018

Ayyu.

Can’t move on from this weekend :)

Seorang perempuan hidup merantau sangatlah tidak mudah. Jauh dari orangtua merupakan sesuatu hal biasa di hidup gue, namun pada akhirnya gue harus mengakui kalo gue juga kangen banget untuk diceramahi a.k.a dibawelin mamah gue, “ya ampuuun, gadis kok bangunnya jam segini.. kalo gadis itu habis subuh jangan tidur lagi, nyapu, cuci piring dan masih banyak lagi…” Hal itu merupakan momen langka buat gue, dan yaa gue kangen banget masa-masa itu.

Puncaknya hari ini, well this weekend I got so much love! Mulai dari liat bayi-bayi lucu (acara aqiqah anaknya sahabat gue dan sepupu baru gue yang menggemaskan), kangen-kangenan plus ngobrol sama sahabat kesayangan gue yang akhirnya alhamdulillah kumpul formasi lengkap karena kesibukkan masing masing, terus gue juga ketemu mamah beserta mamang & bibi kesayangan yang selalu ada aja buat diobrolin plus dijadikan bahan lawakan, dan yang terakhir adalah gue dikenalin sama keluarga besar akang.

Fyi, akang ini sebenernya temen lama sih dan gak pernah terlintas sebenernya bisa jatuh cinta sama akang. But, he did it and now I’m falling for him. Jauh bersyukur banget atas apa yang Allah berikan selama ini, gue pun berharap semua yang terbaik buat kita ya kang. Dan sampai saat ini pun, gue selalu berdoa untuk yang terbaik, terbaik disini yaa memang jalan terbaik dari Allah, skenario kehidupan yang gak pernah bisa gue sangka terjadi di masa yang akan datang, dan gue harus mempersiapkan mental untuk menghadapi roller coaster kehidupan. Haha. Thanks for everything, my lovely weekend!

 

Komitmen?

Hmm.. Sejujurnya, saya lagi bertanya-tanya tentang apa itu komitmen sesungguhnya. Karena sampai saat ini saya tidak memiliki dasar tentang apa itu komitmen dan harus bagaimana komitmen itu berjalan. Semua terlihat bias dimata saya. Hingga akhirnya, saya ditempatkan pada posisi yang membingungkan, apakah ini komitmen atau hanya keinginan belaka untuk memiliki?

Selama ini saya selalu berpikir bahwa komitmen itu harus fokus pada suatu hal secara konsisten. Namun, hal ini tergelitik karena novel Supernova, karangan Dee. Novel yang membuat saya mikir ulang tentang apa itu komitmen. Apakah komitmen itu memang harus konsisten selama proses mencapai akhir? Tapi, manusia kan tempat khilaf segala-galanya, kadang bener kadang gak, kadang inget kadang gak. Pokoknya manusia itu makhluk paling tidak bisa terprediksi atas segala complicatednya pikiran mereka. Jadi, kok ya banyak sih pasangan hidup yang berpuluh-puluh tahun hidup bersama, mereka emang ga bosen atau jengah dengan komitmen yg selama ini dijalani?

According to the novel supernova yang baru saya baca minggu lalu, itu semua gara-gara gagal nonton filmnya dan orang-orang bilang bagus, jadi penasaran. Novelnya menceritakan tentang perempuan bernama Rana, she’s married dan dia terjebak cinta terlarang dengan pria sukses dan single, Re. Rana pun merasa keputusannya menikahi Arwin terlalu terburu-buru karena dia baru menemui sosok yang selama ini dicarinya, yaitu Re. Hingga singkat cerita Arwin, Suami Rana, mengetahui kelakuan minus istrinya. Bayangkan wahai kalian para suami/istri kalian ngeliat dengan mata kepala sendiri istri/suami kalian selingkuh! BAH!

Dan gak nyangkanya, di cerita ini, Arwin memeluk Rana dan bilang, “Aku merasakan sakit ternyata selama ini aku tidak bisa membuatmu bahagia selama kau menikah denganku. Dan aku bahagia melihatmu bisa tertawa lepas bersama lelaki itu. Kau bebas Rana!”. And what do you think about what Rana does after her husband tell that statement? Running away to Re? Dan jawabannya adalah BIG no! Justru Rana langsung memeluk Arwin dan kembali. That’s it!

Arwin bisa sebegitu gampangnya ngomong kalo dia merelakan Rana untuk bersama Re. Apakah itu tahapan cinta dimana melihat orang yang dicintai bahagia walaupun bersama orang lain? Padahal Arwin dan Rana telah berkomitmen, apakah dengan sebegitu mudahnya melepaskan begitu saja Rana untuk bersama Re? Dan itu yang selama ini bikin pertanyaan besar dalam diri gue, Apakah sudah siap dengan Komitmen?

ini ada quotes tentang komitmen. what do you think?

Kepastian

Aku hanya bisa menunggu sebuah ketidakpastian, walaupun usia ku kini sudah pasti bertambah. Ya, kamu yang membuat aku semakin ragu akan adanya kepastian tentang hubungan kita. Tanpa ada bicara, tanpa ada kabar, kamu meninggalkan aku disini. Kini hanya ada sisa rindu yang mulai menggerogoti sendi-sendi tubuh yang entah bagaimana lagi aku bisa bertahan.

Tersenyum saat membayangkan kamu memeluk erat tubuh ringkih ini, namun getir seketika melihat kenyataan bahwa engkau sudah tidak lagi mengatakan rindu pada diriku ini yang setia menunggu mu hingga detik ini. Terpisah pulau pun aku hadapi, walaupun banyak dari mereka mencibir tentang hubungan kita. Namun, aku tetap yakin bahwa kita akan menggoreskan memori kecil indah kita bersama dan aku rasa, engkau berbeda dengan mereka.

Hingga saatnya tiba, aku hanya menunggu mu berbicara tentang sebuah kepastian. Kepastian yang tak akan pernah bisa kuduga mungkin apa yang akan terjadi nantinya. Sayang, aku hanya ingin mendengar suaramu.. Dan aku ingin menanyakan hal ini, Masihkah kau mencintaiku? Maka jawaban mu akan menentukan kepastian itu.

*Tulisan ini terinpirasi dari pengalaman seorang sahabat. Saat ini aku tidak bisa langsung menghiburmu, namun percayalah aku menyayangimu 🙂 cheer up, girl!

Writing Challenge Day 13 – Write about Something you absolutely Love

Kamu telah menemani ku

Dalam suka dan duka

Disaat kerabunan ini menyelemuti ku

Kau datang disaat yang tepat

Kau yang paling setia dibandingkan apapun dan siapapun

Kau tak akan terganti

Walaupun kini banyak yang menggodaku untuk memisahkan aku dan kamu

Namun aku tetap setia padamu, Kacamata

Well, hari ini adalah writing challenge yang ke-sekian kali nya. Dan sebelum masuk ke topic pembicaraan, saya ingin memberikan persepsi saya tentang judul WC kali ini. Nah, disini ditulis tentang something I absolutely love. Hmm, something is different with someone right, so saya menjatuhkan pada “sesuatu” >> benda. Dan “sesuatu” ini yang saya sayangi. Dan ini dia penampakkan nyaa… *jengjeng*

si kacamata *

Kacamata telah menemani hidup saya sejak kelas satu SMP. Dulu inget deh, jaman SMP masih pake kacamata model oval gitu, cupu banget deh ya. Sampe akhirnya menjelang kelas 3 SMP ganti kacamata tanpa frame. Nah, naas nya itu kacamata gak bertahan lama dan akhirnya ganti lagi dengan full frame. Hingga akhirnya bosen dan pada saat itu entah saya ganti kacamata jadi half-frame. Dan sekarang kembali lagi ke full frame. Bosenan? Yup, itu memang saya. Haha. So, pengen sih ganti lagi sebenernya, karena warna ungu si kacamata saya udah gak oke lagi. Ganti warna apa yaa? Hehe.