Sepucuk Surat (30-12-2018)

Hai.

Semoga kamu selalu sehat dan selamat ya atas pernikahannya. Kurang lebih 2 tahun ini, aku banyak merenung tentang memaafkan diri sendiri dan berdamai dengan keadaan aku saat ini.

Dan rasanya aku juga harus memberanikan diri untuk meminta maaf atas semuanya. Kesalahan yang sudah membuat kita saling melukai di masa lalu. Dan berharap semoga kamu bahagia dengan pilihan hidup mu dan selalu menjadi seseorang yang selalu sabar untuk memahami pasangannya, sama seperti dulu.

Banyak hal yang aku pelajari bersama kamu selama delapan tahun kita bersama. Terimakasih pernah menjadi yang paling aku andalkan, terimakasih juga sudah sabar menghadapiku, terimakasih sudah mau menemaniku disaat tersulit, dan rasa syukurku yang tidak pernah kusangka banyak kebahagiaan yang aku dapatkan bersama kamu. Ohiya, salam juga yaa buat Ibu dan ayah, aku kangen ngobrol sama mereka.

Aku berharap kamu bahagia dengan istrimu. Selamat ya atas pernikahanmu, Samawa.

Bekasi, 30-12-2018

Ayyu.

Forget to Heals

Hosh.. saya lelah. Ketika saya sudah tidak sabar dengan seseorang maka saya bisa mengeluarkan emosi secara meledak dan setelah itu menguap. Hal ini terjadi baru pagi ini, ketika saya butuh support rekan saya, namun dengan mudah menjawab malas, susah dan masih banyak alasan lagi.

Saya sakit hati. Karena sebegitu mudah nya menjawab dengan enteng seperti itu padahal saya berharap lebih karena dia memiliki skill khusus yang kebanyakan orang tidak punya, dan yang terpenting saya sangat membutuhkan.  Ini menjadi pelajaran buat saya untuk lebih bijak menanggapi setiap permintaan tolong oranglain ketika kita tidak bisa atau kesulitan memenuhi permintaan itu. Dan tidak mudah meremehkan atau menganggap setiap permintaan tolong seseorang itu merupakan hal yang remeh.

Mungkin selama ini, lidah saya dengan mudah mengatakan hal yang mungkin menyakiti lawan bicara saya, sehingga ini menjadi pelajaran lagi dan lagi untuk saya. Well, Kebo you have to forget everyhting because it heals everyhting. Keep smile kebo 🙂

Enjoy Your Life

“Enjoy your life…
Jangan menikah cepat-cepat..”

Berikut sepenggal percakapan saya dengan expat, atasan yang diimport langsung dari korea, yang membuat saya tergelitik. Karena sejujurnya agak aneh saja, disaat sekitar saya menyarankan segera mempercepat. Toh gak baik kelamaan berpacaran, namun hal ini berbeda dengan expat saya.

Saya masih ga habis pikir, kenapa toh si expat bisa kepikiran ngomong kaya gitu haha. Hal ini juga menjadi oase disaat orang-orang di sekitar saya mulai sering mananyakan, jadi kapan menikah? Kapan lanjut S2? Kapan punya rumah? Kapan ini.. kapan itu.. hoeek

Enjoy your life. Yaaak, buat saya yang gak suka mematok dengan saklek kehidupan saya harus dengan pencapaian ini itu. Nyata nya membuat saya agak risih untuk menghadapi pertanyaan dan pernyataan sejenisnya. Saya yakin setiap umat memiliki rezeki masing masing. Namun bagaimana cara orang tersebut untuk menjemput rezeki masing masing. Biarkanlah tiap individu memiliki cara dan prinsip untuk menjemput rezeki yang telah Allah tetapkan sejak kita berada di dalam kandungan usia 4 bulan lebih 10 hari.

Jangan pernah takut atau khawatir ketika sesuatu yang kita inginkan belum juga terkabul. Karena bisa jadi apa yang kita inginkan itu gak baik buat kita. Setiap momen atau hal yang terjadi dalam hidup kita entah di tiap detik, tiap meter dan tiap gramnya hehe.. semua nya punya masing masing hikmah dan cerita dibalik kejadian yang terjadi. Maka enjoy every moment that happen in your life. Dont ever wasting your time to ask why and why. Yakin semua punya arti dibalik kesulitan bahkan kebahagiaan yang terjadi dalam hidup kita.

Sempat tergelitik dengan pernyataan umi astri ivo, “Beriman itu bukan hanya percaya pada Allah saja, kalo kaya gitu namanya iman di bibir saja, namun percayakan seluruh hidup kita ini kepada Allah”. Lalu pertanyaan selanjutnya muncul, sudah kah kita percayakan seluruh hidup kita ini kepada Allah?