New Hello

new hello.JPGSaat saya blogwalking, saya menemukan kalimat ini di blog nya mba cinta (mba cinta, ijin yaa capture hehe). Saya terdiam sejenak kemudian menghela nafas. Well, you did it yu, good job. Entahlah sudah ga ada bentuk nya lagi hati ini, mungkin seperti sisa remahan roti bretok favorit saya. Saya harus berani mengambil langkah yang gak pernah terpikirkan sebelumnya. Delapan tahun lima bulan sudah cukup buat saya dan terimakasih untuk semuanya. *mendadak melow*

Advertisements

Watch your mouth!

Jadi kali ini posting saya akan berisi uneg-uneg saya yang sebenernya udah saya sabar-sabarin kok yaaa jadi kesel sendiri hahaha.. Kebiasaan jelek anak semi introvert macem saya ini, yaitu saya agak susah untuk mengungkapkan apa isi hati saya alias gak enakan, takut menyusahkan lah, takut ini takut itu atau bisa dibilang julit, rudet atau ribet hihihi.

Hoiya, saya mau cerita awalnya kenapa bisa posting kaya begini, saya ini suka banget pake baju-baju lucu gitu *gak inget umur* Berawal saya hari ini pakai kaos ala shirtee gitu, selain saya suka model nya dan bahannya juga adem, apalagi lingkungan kerja saya juga tidak menuntut pakaian kerja formal, jadi kaos plus jeans aja udah ok. Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini agak bikin kuping saya gatel, karena ceplas ceplos nya temen saya yang kurang enak didenger. Entah saya ga suka. Mungkin emang bisa sih ngomong baik-baik tanpa harus ngetawain, seriously gue tersinggung dan makin males untuk ngomong ini itu. Karena sejujurnya, saya yang emang tipe orang yg ga suka komentar ga penting, karena saya tau buat apa komentar tentang masalah fashion orang toh yang penting orang nyaman dan suka. Terus masalah buat lo?

So, please yaaa buat yang suka komentar ga penting, perbaiki dulu yuuuk diri kita masing-masing, apa iyaa kita jauh lebih baik dari yang dikomentari atau apakah bisa kita memperbaiki diri bersama sama dengan komentar kita?

OKE. Mohon maaf sekali lagi!

47e6b7ba34a17cd818395bb24f4025fa

Ayooo long weekend cepatlah dataang~~

Enjoy Your Life

“Enjoy your life…
Jangan menikah cepat-cepat..”

Berikut sepenggal percakapan saya dengan expat, atasan yang diimport langsung dari korea, yang membuat saya tergelitik. Karena sejujurnya agak aneh saja, disaat sekitar saya menyarankan segera mempercepat. Toh gak baik kelamaan berpacaran, namun hal ini berbeda dengan expat saya.

Saya masih ga habis pikir, kenapa toh si expat bisa kepikiran ngomong kaya gitu haha. Hal ini juga menjadi oase disaat orang-orang di sekitar saya mulai sering mananyakan, jadi kapan menikah? Kapan lanjut S2? Kapan punya rumah? Kapan ini.. kapan itu.. hoeek

Enjoy your life. Yaaak, buat saya yang gak suka mematok dengan saklek kehidupan saya harus dengan pencapaian ini itu. Nyata nya membuat saya agak risih untuk menghadapi pertanyaan dan pernyataan sejenisnya. Saya yakin setiap umat memiliki rezeki masing masing. Namun bagaimana cara orang tersebut untuk menjemput rezeki masing masing. Biarkanlah tiap individu memiliki cara dan prinsip untuk menjemput rezeki yang telah Allah tetapkan sejak kita berada di dalam kandungan usia 4 bulan lebih 10 hari.

Jangan pernah takut atau khawatir ketika sesuatu yang kita inginkan belum juga terkabul. Karena bisa jadi apa yang kita inginkan itu gak baik buat kita. Setiap momen atau hal yang terjadi dalam hidup kita entah di tiap detik, tiap meter dan tiap gramnya hehe.. semua nya punya masing masing hikmah dan cerita dibalik kejadian yang terjadi. Maka enjoy every moment that happen in your life. Dont ever wasting your time to ask why and why. Yakin semua punya arti dibalik kesulitan bahkan kebahagiaan yang terjadi dalam hidup kita.

Sempat tergelitik dengan pernyataan umi astri ivo, “Beriman itu bukan hanya percaya pada Allah saja, kalo kaya gitu namanya iman di bibir saja, namun percayakan seluruh hidup kita ini kepada Allah”. Lalu pertanyaan selanjutnya muncul, sudah kah kita percayakan seluruh hidup kita ini kepada Allah?

Menyerah

Mungkin kata menyerah bukanlah hal yang diinginkan bagi setiap orang, cenderung menjadi momok yang menakutkan ketika kegagalan datang lagi dan lagi. Namun, kapan kah waktu yang ideal untuk menyerah? Mungkin banyak berpikir bahwa menyerah bukanlah suatu solusi, menyerah bukanlah jawaban dari segala keresahan jiwa dan menyerah bukanlah jawaban yang pantas ketika dalam berproses diri. Banyak mungkin yang tanpa sadar, termasuk saya, mengalami momen dimana menyerah. Namun setelah itu apa? Akan berdamai bahkan bershabatkah dengan menyerah itu atau mencoba bangkit dan melawan rasa ketakutan diri yang sebenarnya dapat kita lawan, singkirkan dan mungkin saja rasa ketakutan itu akan pergi. Mungkin. Entahlah.

Saya tertegun, di sudut kacamata saya sebagai pihak yang mengamati dan bukan terlibat secara aktif didalam kondisi tersebut, Saya melihat bagaimana seseorang yang telah menyerah, apaka Dia sudah berdamai dengan kondisi yang menyulitkan dilihat berbagai aspek, atau Dia sudah lelah dan dia pun menyerah. Sedih rasanya, mencoba untuk menyemangati dan memotivasi agar dia tidak menyerah, namun rupanya rasa ketakutan, kecemasan, dan keraguan yang menghinggapi sudah terlalu besar sehingga semua dianggap semu walaupun kesempatan untuk merubah itu nyata di depan mata.

Semoga semua ini jadi pelajaran untuk kita semua, bahwa semua perasaan negatif itu hanya akan mengkerdilkan diri kita sendiri. Bukan saya merasa sok suci, namun ini menjadi reminder bahkan tamparan untuk saya sendiri. Bahwa jangan pernah menyerah akan keadaan, manusia hanya bisa berusaha namun sisanya Allah yang menentukan. Dan yakinlah seluruh proses yang terjal dan berliku bahkan badai menerjang tidak akan pernah membohongi hasilnya. Mungkin hasilnya tidak seperti apa yang diinginkan, namun apakah kita siap ketika semua yang apa kita inginkan terkabul. Maka, apapun yang terjadi percayalah semua itu yang terbaik.

dibalikkesulitan

Apakah ini perpisahan?

Terkadang perpisahan memang menyesakkan karena pikiran, perasaan, dan emosi yang telah terjalin kurang lebih dua semester. Namun terimakasih atas pengalaman selama ini yang telah kau berikan, walaupun seiring perjalanan ini, saya tidak bisa benar-benar memahami, membuat banyak kesalahan dan masih banyak kekurangan. Saya sangat tidak menyesal disini karena saya telah dipertemukan oleh orang-orang yang seperti kalian yang kini menjadi kaum minoritas di kampus saya yang katanya kampus berbasis riset namun miskin akan kepekaan sosial tentang lingkungan sekitar.

Februari merupakan bulan dimana kita dipertemukan. Saya sebelumnya tak pernah mengenal kalian, saya juga tak mengetahui sifat kalian dan kisah cinta kalian. Haha. Namun, seiring perjalanan, suka dan duka yang kita rasakan bersama, saya menemukan salah satu oase kecil yang menjadi tempat melepas penat tugas akhir yang kini mendera mahasiswa tingkat akhir seperti saya, yaitu berinteraksi dengan warga sekitar saat pelatihan, senyum polos anak kecil saat sanggar, tawa riang anak-anak panti asuhan karena senang bermain dan menadapat games sampai tatapan sinis warga kepada mahasiswa kepada kami karena rasa kepercayaan mereka kepada kaum kami yang sudah dipandang sebelah mata karena moral kami. Yah, memori-meori seperti itu akan tetap melekat dalam ingatan saya dan akan selalu saya kenang. It was unforgettable.

Sekali lagi terimakasih yang tak terhingga karena kesempatan emas yang telah diberikan kepada saya yang hanya memiliki pengalaman minim di bidang pengembangan masyarakat. Dan setelah sidang LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban), berakhir pula masa jabatan ini. Lega sekaligus sedih karena saya harus berpisah dengan kalian. Kawan, tetaplah berkarya untuk masayarakat sekitar dan sukses untuk kalian semoga kita dipertemukan oleh Allah SWT dengan cara yang begitu indah 😀 amin.

We call it, Family :)

We call it, Family 🙂

Tarik nafas sejenak

Mungkin memang sudah waktunya saya untuk menarik nafas terlebih dahulu. Saya ingin rehat sejenak dari segala aktifitas yang selama ini saya jalani karena saat ini saya harus fokus pada salah satu list impian saya yang telah saya rancang dari awal saya masuk kuliah di kampus ini.

Masing-masing dari kita punya prioritas dan saya memilih untuk menyelesaikan apa yang selama ini saya kesampingkan, saya ingin membahagiakan orangtua saya itu intinya. Mendengar suara mereka di telpon, membuat saya ingin segera menuntaskan hal yang tertunda ini, saya tidak ingin mengecewakan mereka. Dan saya harap kalian mengerti bahwa saya memilih untuk meninggalkan kalian dan segala kegiatan sementara waktu karena saya ingin menuntaskan janji saya terhadap diri saya sendiri. Mungkin kalian kecewa, namun ini memang keputusan saya dan saya sangat memohon maaf pada kalian.

Huh. Sebenernya sudah lama, gue ingin mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam hati. Mohon maaf yaaa sekali lagi bagi yang merasa sebagai “kalian” di tulisan gue ini. Dalam hati ini, gue bener-bener gak enak banget deh ya, karena gue harus meninggalkan beberapa kegiatan yang gue anggap memang menguras waktu, bukan karena gak bermanfaat, beneran deh gue bersyukur banget bisa terlibat langsung untuk memberikan banyak manfaat dengan orang-orang yang ada di sekitar gue, namun ada satu hal yang memang gue harus utamakan dan selesaikan dan itu membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang full. Sejujurnya gue memang bukan tipe orang yang bisa multi-tasking sehingga ketika gue dihadapkan akan banyak pilihan, maka gue akan memilih berdasarkan prioritas utama gue.

timeout

Sekali lagi postingan ini gue buat karena gue ingin mencurahkan uneg-uneg supaya lebih plong dan supaya gue bisa menjelang januari 2014. Amiiiiiin.

Si Charming

Di minggu yang cerah ceria ini. Saya akan bercerita tentang dosen saya yang mungkin bakal jadi salah satu dosen favorit saya, kode nya B*A. Mari kita beri julukan beliau itu ‘si charming’. karena entah kenapa at the fisrt sight, saya melihatnya sesosok yang charming 🙂 dan makin kesini, bagi saya,  he’s really charming person. haha. oke, saya akan menjelaskan hal-hal apa saja yang membuat saya makin melihat dia sebagai sosok yang begitu charming 🙂

Di pertemuan pertama, seperti biasanya saya masih males banget sama yang namanya kuliah karena masih terlena akan liburan panjang sekitar dua bulan boo gimana gak bikin pasif nih saraf otak untuk bekerja lagi :3 oke, hari ini ditutup dengan kelas elektro komunikasi (elkom), oh my god ini pelajaran abstark model apa lagi, sebelumnya saya punya kenangan buruk akan sodaranya yaitu rangkaian linstrik dan elektronika, kini harus bagaimana saya menghadapi elkom ini?? tiba-tiba, muncul sosok lelaki, badannya ideal, rambutnya cepak, semi botak dan berkacamata, serta kulit nya yang sawo matang menambah eksotik dirinya. Dan masih muda sodara-sodara! hehe. *genitnya kambuh*

Kuliah berjalan seperti biasanya, dan beliau menawarkan mahasiswa untuk bertanya, saya memberanikan untuk bertanya, “pak, saya gak ngerti tentang soal yang di slide bapak”. dan beliau menjawab, “maaf, saya gak menjawab tentang pertanyaan tentang soal, saya mau kalian bertanya tentang penjelasan fisisnya, kalo kalian mau tanya tentang soal gak usah kuliah S1 mending D3 aja!”

Hal itu langsung menyentil saya. Gimana gak? dikritik di depan umum, dan dalam batin saya bergelut, ego saya seperti biasa tampaknya lebih dominan, ” yu, lu digituin sama tuh dosen? gak tau apa tuh dosen, lu tanya dengan baik-baik, jawabnya asli songong parah, kalo gue jadi lo, gak sbakal lagi dah belajar elkom serius! asli songong banget dah ni dosen!”. namun, ternyata masih ada hati kecil saya yang berpendapat, “yu, mungkin ini juga pembelajaran baru buat kamu, mungkin ini adalah salah satu cara Allah membuka pikiran kamu tentang apa arti kuliah S1 sesungguhnya”. aaaargh, entahlah, saya belum bisa menentukan, pokoknya saya masih bete parah ngeliat dosen itu, hasrat belajar saya jadi turun gara-gara itu dosen. Oke yu, cara terbaik adalah tidur segera dan melupakan kejadian hari ini.

Setelah saya jaga praktikum, saya liat ada jadwal matkul elkom, mengehela napas, “heeeeeeeeeeeh”. asli setelah kejadian itu, saya makin males aja buat kuliah. gamang menemani langkah saya saat menuruni tangga dari lantai 3 laboratorium FEK (Fakultas Elektro Komunikasi) sampai  di tangga lantai dua, ada sosok yang sebenarnya tak asing, saya melihat sambil memicingkan mata, maklum mata minus saya sudah mulai bertambah minusnya ini, untuk meyakinkan benar gak ya yang saya lihat ini. semakin dekat, tiba-tiba dia tersenyum dan saya bengong, segera membalas dengan senyumyang tawar. Ya, dia dosen yang menyebalkan itu. Apa??? dia bisa senyum juga?? saya kira, bibirnya udah beku. tiba-tiba teringat kejadian lalu, tapi entah kenapa bagi saya kharisma nya muncul disaat seperti itu.

Saya berusaha mengendalikan diri untuk lebih mengerti orang lain, mungkin memang hanya cara itu yang dia tahu untuk mengkritik orang yang yang tanpa dia tahu orang tersebut memiliki sensitifitas yang tinggi seperti saya. Toh, saya harus menerima jika apa yang dia bicarakan ternyata baik untuksaya kedepannya. sepertinya, saya mulai mengerti dan berusaha untuk menjadi lebih baik. Go Fighting! Man Shabara Zhafira. Siapa yang bersabar maka dia yang akan memetik hasilnya. 😀

Hari ini seperti biasa, menunggu dosen elkom yang agak telat sepertinya, tiba-tiba si charming datang, menaruh tas nya, dan langsung ke depan kelas, saya pikir dia langsung ngajar, tapi ternyata tidak, kali ini beda, “disini siapa saja yang ngerokok? *kelas hening* tadi waktu saya perjalanan ke kelas ini, di lorong (seperti koridor, tapi sifatnya outdoor) saya melihat, maasiswa pake jeans dan bukan seragam kemejanya, dia merokok!  kaya nya sih bukan mahasiswa fakultas elko. saya ngerasa kaya terminal aja nih kampus, dan saya merasakan ada pergeseran, entah dari segi apa, dulu waktu zaman saya kuliah, tetap pasti ada yang ngerokok, cuma aktivitas nya terpusat seperti di kantin dan gak ada yang di tempat lain. tapi, sekarang udah banyak ya yang ngerokok di gedung kampus. kalian tahu, di kampus kita ada baliho besar tentang larangan merokok di kawasan kampus, bagi saya itu merupakan himbauan bukan suatu peraturan yang mutlak. jadi, bagaimana kalian menyikapinya itu semua tergantung kalian”. kelas kembali hening.

tiba-tiba si charming memecah keheningan, “kamu yang dibelakang tolong nyalakan lampu ya!” pintanya. seorang mahasiswa maju dan menyalakan lampu. namun, langkah nya terhenti, “kamu silahkan keluar dari kelas saya!”. Satu kelas bengong, kenapa mahasiswa itu disuruh keluar?. “Kamu pake jeans, tau kan peraturannya? jeans bukan seragam.” simple kata-kata nya namun,menurut saya itu menjelaskan semua kebengongan di kelas. mahasiswa tersebut dengan gontai keluar kelas dan si charming kembali berujar berujar ” kalo udah pake seragam, masuk aja ya. ada lagi yang menyusul?”, kali ini kelas hening dengan kondisi yang berbeda.

lagi-lagi di gedung fek, saya bertemu dia, namun di depan saya ada dua mahasiswa yang seperti nya kenal dekat dengan dosen itu, mereka menyapa dengan sapaan biasa, namun dosen itu membalas sapaan mereka, “apa kabar cuy?”. what? dia ngomong apa tadi? cuy? gak salah denger? apa nama salah satu mahasiswa nya itu acuy atau ucuy atau icuy? tapi, kaya nya nya kata sapaan cuy deh, biasa nya digunakan untuk sapaan orang sebaya. apa saya salah liat ya, dia bukan dosen saya mungkin, apa dia mahasiswa yang mirip sama si charming. oke, saya meyakinkan diri, dan ternyata dia adalah si charming, dosen elkom saya.

Well, saya kagum ngeliat sosok dia yang unik bagi saya. Sebenernya, di kampus saya banyak dosen-dosen yang easy going, deket sama mahasiswa, tapi, saya entah kenapa memilih dia untuk saya tuliskan di blog ini. Sebenernya, sifat dia yang bisa menyesuaikan diri saat kapan dia menjadi dosen, menjadi teman, ini yang membuat saya kagum. dan saya terinspirasi banget lah karena dengan dia, saya dapat mencoba untuk menerima masukan yang ada, walaupun awalnya ego saya yang mendominasi namun seiring luntur karena kali ini logika saya yang gak mau kalah sama ego saya. Thank you, pak. maaf saya gak bisa bayar royalti karena pencantuman bapak di blog saya. :’)