Apa sih yang salah?

Bagi saya punya sifat yang setengah ekstrovert dan setengah introvert alias ambivert ini kadang memerlukan “me time” seperti nonton film sendirian. Minggu kemarin saya baru saja nonton film Batman V Superman SENDIRIAN banget. Hihi. Dan hal itu saya ceritakan kepada sahabat saya, ami. Dia pun terkejut karena saya nonton sendirian, terkesan ga punya temen, ujarnya. Dan dia meminta untuk memberitahukannya jika ingin menonton tapi ga ada teman nonton.

Apa sih yang salah? Karena menurut saya, menonton sendirian itu lebih bisa mengefektifkan waktu sendiri. Kenapa? Pernah gak sih nunggu lama karena kita harus nungguin seseorang yang janji nya dateng jam sekian, tapi ternyata ngaret sampe film nya udah main dari 30 menit yang lalu, males banget kaaan. pfft. Terus, apalagi yaaaa, hoiya waktu sholat juga lebih efektif karena jika waktu nonton nya mempet dengan adzan, kita bisa mengatur berapa lama untuk sholat sebelum film mulai. Dan yang lebih utama adalah saya bisa memilih tontonan kesukaan saya tanpa takut merasa ga enak karena teman nonton saya ga suka sama film yang saya ingin tonton. Contohnya, nanti tanggal 15 april akan ada filmnya Shah Rukh Khan yang judulnya FAN.. aaaaaaak gak sabar nunggu film nya di CGV groups wohooooooooo! Hahaha

Menurut temen-temen, ada yang salah gak sih kalo nonton sendirian? hmm

 

 

Enjoy Your Life

“Enjoy your life…
Jangan menikah cepat-cepat..”

Berikut sepenggal percakapan saya dengan expat, atasan yang diimport langsung dari korea, yang membuat saya tergelitik. Karena sejujurnya agak aneh saja, disaat sekitar saya menyarankan segera mempercepat. Toh gak baik kelamaan berpacaran, namun hal ini berbeda dengan expat saya.

Saya masih ga habis pikir, kenapa toh si expat bisa kepikiran ngomong kaya gitu haha. Hal ini juga menjadi oase disaat orang-orang di sekitar saya mulai sering mananyakan, jadi kapan menikah? Kapan lanjut S2? Kapan punya rumah? Kapan ini.. kapan itu.. hoeek

Enjoy your life. Yaaak, buat saya yang gak suka mematok dengan saklek kehidupan saya harus dengan pencapaian ini itu. Nyata nya membuat saya agak risih untuk menghadapi pertanyaan dan pernyataan sejenisnya. Saya yakin setiap umat memiliki rezeki masing masing. Namun bagaimana cara orang tersebut untuk menjemput rezeki masing masing. Biarkanlah tiap individu memiliki cara dan prinsip untuk menjemput rezeki yang telah Allah tetapkan sejak kita berada di dalam kandungan usia 4 bulan lebih 10 hari.

Jangan pernah takut atau khawatir ketika sesuatu yang kita inginkan belum juga terkabul. Karena bisa jadi apa yang kita inginkan itu gak baik buat kita. Setiap momen atau hal yang terjadi dalam hidup kita entah di tiap detik, tiap meter dan tiap gramnya hehe.. semua nya punya masing masing hikmah dan cerita dibalik kejadian yang terjadi. Maka enjoy every moment that happen in your life. Dont ever wasting your time to ask why and why. Yakin semua punya arti dibalik kesulitan bahkan kebahagiaan yang terjadi dalam hidup kita.

Sempat tergelitik dengan pernyataan umi astri ivo, “Beriman itu bukan hanya percaya pada Allah saja, kalo kaya gitu namanya iman di bibir saja, namun percayakan seluruh hidup kita ini kepada Allah”. Lalu pertanyaan selanjutnya muncul, sudah kah kita percayakan seluruh hidup kita ini kepada Allah?

Talak 3

Hello.. this is my first time to update blog via smartphone. eventhough i dont really like update via smartphone because the keyboard is too small for me and make my speed of typing was decrease mehehehe.

So, sekarang mau bahas apa? Talak 3. sore ini saya memutuskan untuk nonton film talak 3 di cinemax lippo cikarang, sendirian, ini penting banget ditulis hehe. awalnya saya memutuskan menonton film ini karena saya suka banget saya sama Reza Rahadian. Suka banget! sampe si mas cemburu kalo udah ngomongin reza rahadian. hehe

berawal dari kisah hubungan rumit suami istri yang ingin bersatu kembali namun terdapat kendala yakni talak 3. wew, that’s the point. dont ever make decision when you were angry! because it would be ruined your life.

mungkin untuk sinopsis udah banyak dibahas dan plus minus dari film tersebut. saya sebenarnya tergelitik dengan the other side or value from this movie.

1. dont ever make your decision when you are angry or broken heart
ini udah jelas pasti. karena pastinya akan membuat kamu menyesal dan mengahncurkan semua nya, semuanya. tanpa kita sadari, bagi yang sedang patah hati atau kecewa karena tidak bisa memiliki dia, lalu kita mencoba untuk mengkomunikasikan rasa kecewa itu terhadap dia, lalu setelah itu apa? apakah dia akan bahagia jika kita bersama kembali? jawaban nya ada di diri kita masing-masing.

2. Pilih orang yang benar tepat akan menemani anda selama sisa hidup umur kita. ini yang masih saya balum temukan gimana cara nya. secara sekarang, i’m single and very happy. heheh

3. jangan terlalu terburu2 untuk memutuskan sesuatu dan komitmen akan apa yang kita pilih. banyak yang tanpa sadar ingin memutuskan menikah karena sudah dikejar umur. ini yang mudah2an gak terjadi kepada kita semua yaa. karena sejujurnya di film ini menggambarkan bahwa jika di pernikahan tidak ada komitmen maka hancurlah impian pernikahan itu sendiri.

4. enjoy your life and if there’s an oppotunity for you, take action! ini yang saya sangat senangi dari bimo. He’s so gentle and know how treat a woman like risa as his future wife.

menurut kamu yang udah nonton film ini, apakah ada hal lain yg bisa diambil dari film talak 3? share yours please 😊

images (6)

Entah kenapa saya suka banget waktu scene risa (bella) dengan bimo (reza

Marah

Pernah ga sih merasakan jika teman di sekitar kita yang terkesan paling sabar dan berubah seketika menjadi marah? Saya pun mengalaminya juga dan tentu saya kaget. Karena ternyata orang yang biasa nya sabar, namun ketika emosi nya memuncak maka berubah menjadi seperti orang lain. Mungkin hal ini juga terjadi sering kepada saya, karena tekanan dari atasan sangat tinggi, deadline yang begitu rapat serta kurang nya me-time, such as shopping, perawatan, traveling dan masih banyak lagi. Haha.

Tapi, jika ditelaah lagi, apakah perlu marah-marah untuk hal sesuatu yang sebenarnya merupakan tanggung jawab kita? Atau mungkin memang marah itu menjadi salah satu kebutuhan untuk melepaskan penat kita? Entah kenapa ketika saya melihat seseorang yang marah itu, terkesan berpikir pendek (no offense), karena setelah marah lalu apa? Bisa jadi kita menyakiti perasaan yang berada di sekitar kita karena ucapan yang kasar terlanjur keluar dari mulut kita tanpa kita bisa tarik kembali, atau lelah karena mengeluarkan beberapa kalori untuk menarik urat-urat di sekitar wajah untuk menunjukkan jika kita marah, atau ada pendapat lain kah?

Ini semua bukan berarti saya tidak pernah marah loh, bisa dibilang saya ini salah satu orang yang ekspresif loh hehe. Namun untuk mengeluarkan kata kasar ketika marah, seperti nya itu bukan tindakan bijak, karena bagaimanapun juga marah merupakan salah satu trik jitu dari para setan yang berusaha menambah dosa dan dia akan tertawa bahagia ketika kita masuk jebakan setan #randommind haha

 

angry-little-baby

Kalo Bayi yang marah sih lucu, kalo orang dewasa?? Haha

Tarik nafas sejenak

Mungkin memang sudah waktunya saya untuk menarik nafas terlebih dahulu. Saya ingin rehat sejenak dari segala aktifitas yang selama ini saya jalani karena saat ini saya harus fokus pada salah satu list impian saya yang telah saya rancang dari awal saya masuk kuliah di kampus ini.

Masing-masing dari kita punya prioritas dan saya memilih untuk menyelesaikan apa yang selama ini saya kesampingkan, saya ingin membahagiakan orangtua saya itu intinya. Mendengar suara mereka di telpon, membuat saya ingin segera menuntaskan hal yang tertunda ini, saya tidak ingin mengecewakan mereka. Dan saya harap kalian mengerti bahwa saya memilih untuk meninggalkan kalian dan segala kegiatan sementara waktu karena saya ingin menuntaskan janji saya terhadap diri saya sendiri. Mungkin kalian kecewa, namun ini memang keputusan saya dan saya sangat memohon maaf pada kalian.

Huh. Sebenernya sudah lama, gue ingin mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam hati. Mohon maaf yaaa sekali lagi bagi yang merasa sebagai “kalian” di tulisan gue ini. Dalam hati ini, gue bener-bener gak enak banget deh ya, karena gue harus meninggalkan beberapa kegiatan yang gue anggap memang menguras waktu, bukan karena gak bermanfaat, beneran deh gue bersyukur banget bisa terlibat langsung untuk memberikan banyak manfaat dengan orang-orang yang ada di sekitar gue, namun ada satu hal yang memang gue harus utamakan dan selesaikan dan itu membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang full. Sejujurnya gue memang bukan tipe orang yang bisa multi-tasking sehingga ketika gue dihadapkan akan banyak pilihan, maka gue akan memilih berdasarkan prioritas utama gue.

timeout

Sekali lagi postingan ini gue buat karena gue ingin mencurahkan uneg-uneg supaya lebih plong dan supaya gue bisa menjelang januari 2014. Amiiiiiin.

Mahasiswa + Masyarakat = Mahasyarakat ?

Sebagai mahasiswa yang jauh dari rumah, tentunya saya harus menyewa sebuah kamar kost. Trend nya kalo di kampus saya itu, kebanyakan kos-kosan mewah yang hanya dijaga oleh satu penjaga kos. Yup, pastinya tau sendiri lah ya, si penjaga kosan hanya sebatas menjaga dari para maling dan kebersihan kosan, tetapi tidak bisa menggantikan posisi orangtua sebagai controlling bagi para mahasiswa unyu-unyu ini. Loh tapi kan mereka udah dewasa secara mahasiswa gitu? Namun, faktanya bisa diliat sendiri lah ya kaya gimana, yang pernah jadi mahasiswa tau pasti deh ya.. atau mungkin mahasiswa di zaman kamu berbeda kali ya..

Well, kali ini saya gak akan bahas tentang beraneka ragam kelakukan mahasiswa alias anak muda –termasuk saya juga loh ya- yang bikin geleng-geleng kepala orangtua dan warga sekitar. Ampuuuuni anakmu ini mah.. Tapi, tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman yang saya alami baru-baru ini. Di akhir November ini, organisasi ,dimana saya aktif sebagai pengurusnya, mengadakan sebuah program untuk masyarakat sekitar, yaitu “Festival Mahasyarakat”. Dari segi nama nya pasti udah pada bisa menebak, acara ini bertujuan untuk melibatkan mahasiswa dan masyarakat secara bersama-sama.

Acara ini dilatarbelakangi oleh sesuatu yang simple sebenernya, interaksi sosial mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus yang sangat kuraaaang. Mungkin ada yang protes, Gak kok, buktinya Himpunan A atau Bem C atau Hima B mengadakan acara bakti sosial rutin, kita juga mengadakan pelatihan ini itu, kita juga mengadakan pengajaran non formal buat adek-adek sekitar dan bla bla bla.. Helloooo.. tapi itu hanya segelintir, coba cung -tunjuk tangan- deh bagi masih merasa mahasiswa, berapa jumlah warga asli sekitar kosan kamu yang kamu kenal? 20 orang? 5 orang? 1 orang -paling bapak kosan-? Atau tidak sama sekali? Miris kan. Iya kenyataan nya memang begitu kok.

Well, kami -saya bersama team- sudah semangat ‘45 untuk mensurvey wilayah mana yang jadi sasaran program kami. Sasaran RW kali ini yaitu ada empat RW dan renacanya untuk malam ini kami mengunjungi dua RW. Nah, disini tantangan nya, kami harus menawarkan program ini semenarik mungkin, mulai dari program lomba kebersihan hingga jalan sehat telah kami jabarkan. Namun, apa tanggapan dua RW tersebut? Yup, mereka dingin. Melihat tanggapan warga seperti itu, puput, salah satu yang termuda di team kami, langsung berubah ekspresinya menjadi sendu dan redup pula semangatnya. Duh.

Hmm, disini lah tantangan kami untuk mendobrak “kedinginan” masyarakat terhadap kami -para mahasiswa- terlebih untuk masalah kebersihan. Saya masih ingat akan tridharma perguruan tinggi yang ketiga, yaitu pengabdian masyarakat. Apa artinya jika seorang mahasiswa berprestasi, pintar, cumlaude, bekerja di perusahaan ternama –sebenernya, doa juga buat saya amiiin-, namun belum pernah bahkan tidak bisa menyentuh lapisan mayarakat paling dasar, yaitu lingkungan sekitar.

Ya, kami harus membuat strategi untuk melakukan “pendekatan” dengan warga sekitar yang merasa bahwa mahasiswa hanya sebagai “pendatanng” saja. Sebenernya, pengen minta saran-saran juga dari blogger, how to melakukan pendekatan dengan masyarakat ya yang efektif? Thank you banget banget untuk apapun sarannya. 😀

***

pengmasy (pengembangan masyarakat) rangers dengan tema kostum Mahasyarakat Indonesia 😀

Sebuah Kisah

Saya ingin bercerita tentang sebuah kisah. Mungkin ini kisah absurd yang gak akan menarik di mata kalian. Tapi, kisah ini nyata, ada di sekitar saya, persis jelas tergambar.

Teman saya ini adalah seorang perempuan enerjik dan selalu ceria, namun saya tau dibalik senyuman dan tawa riangnya dia memiliki sebuah sisi rapuh. Kebiasaan nya adalah memendam rasa sakit dan berusaha melupakan itu semua. Well, untuk sementara waktu rasa sakit dan segala urusan yang membuat kepalanya semakin penuh akan terabaikan dan terlupakan, NAMUN itu hanya untuk sementara waktu.

Teman saya memiliki seorang “kekasih” katanya. Tapi, apakah benar dia dianggap kekasih oleh lelaki yang dia puja-puja selama ini? Saya rasa tidak. Karena berdasarkan kejadian yang saya dengar darinya, lelakinya itu menyembunyikan status diantara teman-teman nya dengan menyembunyikan foto-foto yang menunjukkan kebersamaan mereka disaat teman-temannya berkunjung. Alasan nya klasik,  Sang lelaki ingin melindungi identitas teman saya ini. Yang terlintas di pikiran saya selama ini, memang sejahat apakah teman-teman nya? Apakah mereka akan sampai hati melukai hingga membunuh teman saya ini karena tau sang lelaki bersama teman saya?

Suatu saat ada momen teman saya shock, karena ada seorang wanita lain yang menyatakan suka kepadanya. Tentu saja lelaki ini menolak ajakan sang wanita untuk merajut sebuah hubungan, namun yang membuat shock, sang lelaki menjawab bahwa lelaki tersebut ingin sendiri dulu. Teman saya kaget, berarti selama ini dia dianggap apa, pajangan atau selir yang bisa datang dan pergi kapan saja?

Ah. Namun, teman saya ini bisa berbuat apa, tidak ada yang menguatkan teman saya ini untuk mengatakan keluh kesahnya. Well, mungkin ada beberapa orang yang kisahnya sama, namun teman saya ini tetap saja dengan bodohnya menunggu sang lelaki yang jealas-jelas mengacuhkan nya secara psikis. Mungkin kehadiran sang lelaki yang intens ini mengobati perasaan luka teman saya. Memang kau terlalu lemah untuk urusan ini, teman.

teman

Marriage Isn’t For You

“your marriage isn’t for yourself, you’re marrying for a family”
ah.. andaikan ada lelaki seperti ini..
ah.. sudah lah..

Seth Adam Smith

Having been married only a year and a half, I’ve recently come to the conclusion that marriage isn’t for me.

Now before you start making assumptions, keep reading.

I met my wife in high school when we were 15 years old. We were friends for ten years until…until we decided no longer wanted to be just friends. 🙂 I strongly recommend that best friends fall in love. Good times will be had by all.

Nevertheless, falling in love with my best friend did not prevent me from having certain fears and anxieties about getting married. The nearer Kim and I approached the decision to marry, the more I was filled with a paralyzing fear. Was I ready? Was I making the right choice? Was Kim the right person to marry? Would she make me happy?

Then, one fateful night, I shared these thoughts and concerns with my dad.

Perhaps each…

View original post 594 more words