[Fan Fiction] Lia dan Dilan

Sebenernya ga tau sih, ini termasuk fan fiction atau gak? haha. Karena emang pengen nulis semacem cerpen, tapi ga tau mau pake nama tokohnya siapa. Jadi berhubung saya habis baca novel trilogi nya Dilan dan Milea, akhirnya nama tokohnya saya comot (re: ambil). Hmm, pure banget ini iseng ditengah saya kerja di weekend seperti ini, jadi pasti cerita ngalor ngidul ga jelas. Dan rasanya sayang aja kalo ga di posting. Hehe *banci posting*

***

Lia, perempuan, 24 tahun, Quality Engineer di salah satu perusahaan multinasional company. Hari ini otaknya hampir meledak karena issue yang sedang happening mengenai handphone series terbaru yang defect nya bisa lolos hingga market dan ini serius.

“Yaa.. Lia ada email dari HQ. Haish! Follow Up segera! Pali-pali (cepat-cepat)”, teriak Mr Kim yang mulai panik karena sejujurnya issue ini sudah mencoreng citra perusahaan yang katanya merajai pasar gadget di seluruh dunia. Bagaimana tidak, handphone yang digadang-gadang menjadi produk unggulan kini, ternyata battery nya bisa meledak di costumer. Ini gila.

“OK sir”, gusar Lia. Dia tidak begitu suka ketika bos yang langsung di import dari korea ini mulai disergap rasa panik berlebih. Maka pelampiasannya yaitu kroco level staff seperti Lia ini.

Info tambahan mengenai Lia, she’s still single dan jangan tanya tentang jodoh. Kok orangtua gak nanyain sih? Hampir setahun terakhir ini Lia memutuskan jarang pulang ke rumahnya, karena bosan ditanya kapan kawin.

***

Ditengah analisis data quality outgoing yang sudah membuat kepala mau pecah, ada pesan masuk di handphone yang sudah mulai banyak sarang laba-laba saking sepinya,

“Lia”

Dilan? Ada Apa yah? Lia tersenyum sejenak saat membuka pesan dari sahabat kuliahnya dan memang sudah lama  mereka tidak bertemu karena Dilan bekerja di Jakarta.

“Hey”

“Lagi dimana?”

“Biasa lah. Dimana lagi cuy! Masih terjebak gue di kota penuh polusi pabrik”

“Gue di Cimahi”

What? Dilan di Cimahi. Goodnews.

***

“Lia, draft quality meeting sudah?”

“siap bos! Monggo check dulu emailnya! Hihi”

“oh, udah kirim yaaa.. haha.. sorry sorry”, Pak Fandi, supervisor favorit Lia. Pak Fandi ini sangat berjasa buat Lia karena dari beliau Lia bisa belajar banyak hal yang sebenarnya pekerjaan ini tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan Lia sebelumnya. Namun, Pak Fandi dengan sabar menjadi mentor Lia selama menjadi karyawan baru.

Tiba-tiba ada pesan masuk di handphone Lia,

“Lia.. Meet up yuk hari ini”

“Hmm. You know, gue di bojongsoang, mobil ga ada, pacar ga punya, dan tinggal di daerah pinggiran. Huhu”

“Haha. Oke, kita meet up yaa? Pulang kantor dari Cimahi gue meluncur ke sana ya.”

Lia tersenyum sinis. Mana mungkin ada manusia normal yang mau pergi dari Cimahi ke Bojongsoang hanya untuk sekedar meet up. Belum lagi jarak yang harus ditempuh jauh sekali dan macetnya yang ga akan pernah ada obatnya.

“Lia, dimana?”

“Heh? Seriusan ke sini? Kirain bercanda. Haha”

Dilan, selalu menjadi seseorang paling nyaman buatnya. Pertemuan awal mereka saat tingkat satu, mereka bergabung di sebuah organisasi bidang pengembangan masyarakat. Awal pertemuan mereka, Lia dan Dilan sama-sama mencalonkan menjadi koordinator di divisi yang sama. Dan mereka semakin dekat karena segudang kegiatan sosial yang menjadi projek bersama mereka.

***

Lia selalu senang jika bertemu dengan Dilan, karena pasti ada kejutan yang akan diceritakan oleh masing-masing. Mereka memiliki alasan kenapa momen meet up selalu jadi hal yang paling ditunggu-tunggu. Lia senang disamping Dilan karena selalu mau mendengarkan cerita A-Z yang mungkin tidak bisa diceritakan Lia dengan mudah kepada siapapun. Begitupun Dilan, selalu suka sosok Lia yang selalu riang dan menghangatkan suasana.

“Lia, Gue mau nikah bulan depan”, Dilan memecah keheningan.

“HAH? Bercanda lo HAHAHA”, masih menganggap apa yang diutarakan Dilan itu hanya sekedar candaan.

“Bahkan diri Gue sendiri aja ga percaya kalo bulan depan Gue kawin. Hahaha.”, Dilan menatap keluar mobil, matanya terlihat berkaca-kaca.

Lia memeluk Dilan. “Gue belum pernah tau sih, gimana posisinya jadi lo. Semoga ini bisa membuat lo nyaman ya!”

“Lia, I Love you”

“Ssst.. Just Relax, This is the outside of the world! Haha”, kedip Lia.

Lia menyadari ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Dilan. Lia harus melepas Dilan.

Dilan, I Love you too..

Sepatu Baru

14714-floral-shoes

Dua minggu lalu, gue baru aja membeli sepatu baru, flatshoes. Sepatunya masih terasa kaku di kaki gue yang mulai menghitam akibat matahari cikarang. Seperti biasa, saat gue memakai sepatu baru, kaki gue pasti lecet dan keberlanjutan sepatu itu ada di tangan gue. Mau terus dipake dengan resiko kaki lecet di awal atau kalo ga tahan sama lecet nya, stop to wear it!

Pilihannya ada di gue, gue harus memutuskan dan menurut gue ini pilihan yang sulit. Karena model sepatu flatshoes kaya gini, merupakan jenis yang baru buat gue, yaitu dibagian depannya agak runcing, biasanya gue memilih flatshoes yang agak membulat untuk bagian depannya. Selain itu, lecet yang gue rasakan ga hanya bagian tumit belakang aja, tapi bagian jari kaki telunjuk gue juga, mungkin karena jari ini yang paling tinggi diantara saudara-saudara perjarikakiannya. Gue hampir putus asa dan sempet gue anggurin tiga hari karena gue ga tahan sama sakit yang gue rasakan, rasa sakitnya melebihi cinta bertepuk sebelah tangan tsah, apalagi ditambah gue harus berjalan kurang lebih setengah kilo ke area titik jemputan kantor.

Sebenernya, kelecetan ini udah gue antisipasi dengan menggunakan hansaplast, tapi gak mempan malah hansaplast nya yang rusak dan menambah luka kaki gue. Temen gue pun menyarankan untuk memakai kaos kaki yang tebal , akhirnya gue memutuskan untuk menggunakan kaos kaki super tebel plus hansaplast, gue ga boleh menyerah sama sepatu baru gue itu. Dan gue bertahan untuk menggunakan nya dalam 3 hari berturut-turut. Luka sebelumnya masih terasa sakit saat menggunakan sepatu tersebut, but it’s much better! Dan akhirnya gue nyoba sepatu gue itu hanya menngunakan kaos kaki tipis seperti biasanya, dan hasilnya kaki gue ga merasakan lecet dan sakit lagi dong. Yeay! Haha.

Padahal sepatu aja yaaa sampai panjang gini. Hihi. Dan entah kenapa momen sepatu baru ini mengingatkan gue waktu awal adaptasi kerja di divisi baru. Sebelumnya gue nyaman dengan porsi kerja gue yang jelas dan lingkungan yang baik banget. Dan gue pun merasa beruntung sekali bisa dipertemukan teman-teman dan atasan yang luar biasa ini. Hingga akhirnya ada tawaran untuk pindah ke divisi baru, dan gue memutuskan untuk ambil kesempatan itu tanpa gue tau akan cocok atau tidak, hanya berdasarkan peluangnya yang lebih oke karena trend smartphone yang lagi naik daun. Hingga akhirnya negeri api menyerang, Namanya juga pabrik baru berdiri, dari segi manapun akan terlihat sama, berantakan. Tekanan makin terasa, hingga di satu titik gue bertanya ke diri gue, mau lanjut apa gak? Dan jawaban nya adalah gue masih disini. HAHA.

Komitmen?

Hmm.. Sejujurnya, saya lagi bertanya-tanya tentang apa itu komitmen sesungguhnya. Karena sampai saat ini saya tidak memiliki dasar tentang apa itu komitmen dan harus bagaimana komitmen itu berjalan. Semua terlihat bias dimata saya. Hingga akhirnya, saya ditempatkan pada posisi yang membingungkan, apakah ini komitmen atau hanya keinginan belaka untuk memiliki?

Selama ini saya selalu berpikir bahwa komitmen itu harus fokus pada suatu hal secara konsisten. Namun, hal ini tergelitik karena novel Supernova, karangan Dee. Novel yang membuat saya mikir ulang tentang apa itu komitmen. Apakah komitmen itu memang harus konsisten selama proses mencapai akhir? Tapi, manusia kan tempat khilaf segala-galanya, kadang bener kadang gak, kadang inget kadang gak. Pokoknya manusia itu makhluk paling tidak bisa terprediksi atas segala complicatednya pikiran mereka. Jadi, kok ya banyak sih pasangan hidup yang berpuluh-puluh tahun hidup bersama, mereka emang ga bosen atau jengah dengan komitmen yg selama ini dijalani?

According to the novel supernova yang baru saya baca minggu lalu, itu semua gara-gara gagal nonton filmnya dan orang-orang bilang bagus, jadi penasaran. Novelnya menceritakan tentang perempuan bernama Rana, she’s married dan dia terjebak cinta terlarang dengan pria sukses dan single, Re. Rana pun merasa keputusannya menikahi Arwin terlalu terburu-buru karena dia baru menemui sosok yang selama ini dicarinya, yaitu Re. Hingga singkat cerita Arwin, Suami Rana, mengetahui kelakuan minus istrinya. Bayangkan wahai kalian para suami/istri kalian ngeliat dengan mata kepala sendiri istri/suami kalian selingkuh! BAH!

Dan gak nyangkanya, di cerita ini, Arwin memeluk Rana dan bilang, “Aku merasakan sakit ternyata selama ini aku tidak bisa membuatmu bahagia selama kau menikah denganku. Dan aku bahagia melihatmu bisa tertawa lepas bersama lelaki itu. Kau bebas Rana!”. And what do you think about what Rana does after her husband tell that statement? Running away to Re? Dan jawabannya adalah BIG no! Justru Rana langsung memeluk Arwin dan kembali. That’s it!

Arwin bisa sebegitu gampangnya ngomong kalo dia merelakan Rana untuk bersama Re. Apakah itu tahapan cinta dimana melihat orang yang dicintai bahagia walaupun bersama orang lain? Padahal Arwin dan Rana telah berkomitmen, apakah dengan sebegitu mudahnya melepaskan begitu saja Rana untuk bersama Re? Dan itu yang selama ini bikin pertanyaan besar dalam diri gue, Apakah sudah siap dengan Komitmen?

ini ada quotes tentang komitmen. what do you think?

Graduate Trainee Recruitment di PT. HM Sampoerna

Hallo blog!

Berjumpa lagi dengan kebomandi masih di blog yang sama dan gak akan pindah kemana-mana ini. Hehe. Kali ini saya akan menceritakan tentang salah satu pengalaman saya mengikuti rekrutmen di PT.HM Sampoerna untuk program Graduate Trainee (GT), yah walaupun belum rejeki kali yaa masuk  situ. Huhu. Sebenernya sudah banyak sih yang menge-share tentang tahap rekrutmen salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, namun waktu saya mengikuti rekrutmen ini ada perbedaan di tahap FGD dan Panel Interview. Kalau sebelumnya, peserta melakukan tahap FGD baru setelah itu ditentukan siapa saja yang bisa lanjut ke panel  interview, tapi sistem tersebut diubah, panel iinterview diganti dengan istilah speed date interview dan ini diikuti juga oleh seluruh peserta yang mengikuti FGD, sehingga tidakada proses eleminasi pada FGD. Well, Let’s find out.

  1. Jobfair di Smesco

Yup, awalnya saya mengikuti jobfair ini dengan nothing to lose deh karena menurut info dari beberapa teman saya, Jobfair or something kind of that, it’s just branding company, hanya untuk memperkenalkan perusahaan-perusahaan nya saja. Yaa, kita gak tau lah ya kalau gak dicoba. Waktu jobfair itu, kalau gak salah saya meng-apply hanya tiga perusahaan yang menurut saya cocok, salah satunya HM Sampoerna. Dan setelah dua minggu saya mengikuti jobfair tersebut, ternyata ada panggilan untuk mengikuti tahap writing test di One Pacific Place Building, kawasan SCBD.

  1. Writing test

Writing test ini bisa dikategorikan dengan Psikotes gitu kali ya, namun menurut saya berbeda dengan tes psikotes yang pernah saya ikuti sebelumnya. Seinget saya, Tes terdiri menjadi tiga bagian, yaitu analytic thinking verbal, anylitic thinking numeric dan kepribadian. Untuk anlytic thinking verbal dan numeric formatnya sama yaitu menentukan pernyataan yang sesuai dengan informasi yang telah diberikan. Untuk verbal sendiri, diberikan satu paragraf untuk sekitar 3 soal pernyataan dan di tiap pernyataan terdapat pilihan : benar, salah atau tidak dapat ditentukan. Paragraf yang disajikan dari beragam bidang ilmu, dan bagi yang tidak terbiasa dengan istilah ekonomi seperti saya, maklum anak teknik, akan menjadi sebuah tantangan ketika membicarakan saham, inflasi, dsb. Untuk numeric, sama seperti soal matematika, namun kesulitan yang saya hadapi mengenai peerhitungan dividen, karena memang saya gak tau ini istilah apa. Hehe. Dan kalau untuk kepribadian lebih mengisi kecendrungan sifat kita. Pokoknya, dari tahap awal ini saya sudah pasrah Huhu..

Saran dari saya, untuk mengikuti tahap ini, Fokus yang paling penting. Selain itu, perhatikan perintah writing test untuk verbal, yaitu pilih “benar, salah atau tidak dapat ditentunkan” hanya berdasarkan paragraf yang telah disediakan, bukan berdasarkan informasi yang telah anda ketahui sebelumnya. Kalau untuk numeric sendiri, saya lebih memilih mengerjakan yang saya bisa, setelah itu, saya mengerjakan sebisa saya, dan waktu itu saya lebih memilih untuk tidak mengisi soal-soal numeric yang tidak bisa saya kerjakan, jadi banyak kosong nya Hihi.

  1. Interview HR

Dan sekitar 2-3 minggu saya mendapat telpon dan email dari Sampoerna kalau saya lolos ke tahap interview HR. Well, persiapan saya buat interview HR yaa saya banyakin baca tentang Sampoerna dan beberapa artikel terkait perusahaan yanng telah berafiliasi dengan Philip Moris International ini, dan saya sudah prediksikan kalau ini pasti bahasa Inggris.

Waktu interview saya bertemu dengan pak Luki, orangnya hangat dan enak diliat lah yaa. Hehe *centil* Pada sesi ini, pak Luki juga cerita kalo doi ternyata dari program GT selama dua tahun. Berdasarkan informasi dari pak Luki, doi ternyata dari program GT operational, namun setelah dilakukan penempatan, doi memiliki minat di bidang HR. So, tips and trik dari pak Luki, kalau mau masuk GT Sampoerna ini sesuaikan dengan latarbelakang pendidikan kamu, misal kamu anak Teknik yaa berarti bidang yang kamu pilih adalah operational, kenapa? Karena misal nya, kamu anak teknik, tapi kamu pilih bidang Company Affair atau Finance, maka untuk masuk program GT ini kamu akan bersaing dengan anak hukum yang mengerti tentang seluk beluk hukum bla bla atau anak akuntansi yang ngerti tentang istilah profit bla bla bla. Jadi, walaupun program GT ini diperuntukkan untuk seluruh jurusan, namun pada tahap pemilihan divisi disarankan untuk tetap disesuaikan dengan background pendidikan kamu.

  1. FGD dan Speed Date Interview

Sebenernya gak sampe sebulan saya, mendapat telpon dari Sampoerna untuk mengikuti Forum Group Discussion (FGD). Namun, saya bingung liat tanggal nya, karena bertepatan dengan saya wisuda. Waduh, terpaksa saya konfirm kalau saya minta di re-scheduled, namun pas tahap ini asli pasrah banget, karena saya gak terlalu berharap banyak bisa atau gaknya jadwal FGD saya di-rescheduled, dan ternyata bisa. Yeay! Walaupun emang harus menunggu satu bulan lagi setelah itu. Hiks.

Sebelum  dilakukan tes FGD, recruitment team meberitahukan mekanisme baru tentang FGD dan Speed Date Interview (SDI), nama sebelumnya Panel Interview. Jadi, waktu itu dibagi menjadi beberapa kelompok, sekitar 6-7 orang per kelompok.  Dan beberapa kelompok melakukan FGD atau SDI terlebih dulu. Untuk kelompok saya, kami mendapat jadwal untuk SDI terlebih dulu.

Mekanisme SDI ini menurut saya sih unik yaa, belum pernah nemun model interview macem gini di perusahaan manapun. Hehe. Jadi, terdapat meja panjang, disitu terdapat 3 pasang bangku berhadapan, dan sebelumnya telah diisi oleh 3 user yang telah duduk manis disitu. Tiap peserta mendapat kartu berisikan jadwal interview dan mendapatkan jatah 2  kali interview. Sehingga, kita harus mengganti posisi kami tiap kali mendengar suara pluit. Berasa main bola deh ya. Haha. Pertanyaan interview seputar tentang kuliah, projek dan bla bla bla. Jujur, saya sih grogi ya karena pertama kali saya interview user dengan bule pulak yang ngomongnya cepet juga, asli bahasa inggris saya yang terbatas sehingga menurut saya, saya kurang menunjukkan siapa saya hehe.

Dan setelah SDI, kami sekelompok diminta untuk masuk ruangan dimana ternyata sudah ada tiga user yang telah duduk manis di sudut ruangan, nah proses FGD ini diminta untuk menyelesaiakan suatu permasalahan. Nah, rules nya, tiap 10 menit, kami diminta untuk menentukan 3 amplop yang ingin dipilih untuk data pendukung pemilihan nya. Dan ada dua kali kesempatan, sehingga ada 6 amplop yang digunakan untuk memutuskan permasalahan. Well, permasalahannya seputar menetukan 3  produk apa yang terbaik untuk dijual ke pasaran.

Begini, saya gambarkan yaa kondisi waktu FGD, yang saya lihat semua orang di kelompok saya ingin menunjukkan kelebihan pada diri mereka sehingga menurut saya bisa dikategorikan ini diskusi yang panas karena ada beberapa orang yang ngotot ingin pendapatnya diterima. Hal ini dimulai dari pemilihan 3 amplop awal yang sudah jadi pembicaraan alot. Waktu itu, saya lebih mencari kesempatan untuk berbicara. Dan saya mengakui porsi bicara saya kurang sekali dibandingkan lainnya, karena gimana mau ngomong, toh semua nya pengennya pendapatnya didengar dan saya akui bahasa inggris saya lagi dan lagi terbatas hiks, jadi saya berbicara seperlunya aja deh, karena saya gak terbiasa dengan diskusi yang ngotot. Santaaaaaiii bro and sist. Hehe. And in the end of discussion, sebenernya kami diminta menentukan 3 produk, tapi hal itu gak tercapai karena diskusi kami mentok di 4 produk yang ingin dijual.

Saran dari saya, kalo kamu sudah sampai tahap ini, sebaiknya perbanyaklah pengetahuan kamu tentang ekonomi, market trends, psikolog, chemical, dan masih banyak lagi. Berusaha tenang dalam FGD, karena sejujurnya saya panik, karena kaget saat meilhat didalam amplop ternyata banyak hal baru, sehingga saya kurang menguasai untuk dari segi pengetahuan nya.

Well, gak nyampe seminggu saya mendapatkan pemberitahuan bahwa saya tidak lolos untuh tahap berikutnya. Sedih sih ya, tapi semua ini saya anggap pengalaman berharga bagi saya. Berdasarkan, info yang saya terima dari recuitment team nya, tahap berikutnya adalah presentation. Dan Selamat bagi yang lolos rekrutmen GT ini dan Goodluck juga bagi kamu yang seleksi GT Sampoerna. Sukses 😀

Januari Datang

Ini bukan postingan tentang resolusi tahun 2014. Namun, ini tentang kamu yang datang dan semakin mendekat. Aku semakin merasa gelisah. Dalam hati ini selalu muncul keresahan, apakah perjumpaan kita akan begitu terasa manis atau kau menusukku dengan begitu dalam sehingga sudah tidak bisa merasakan sakit lagi?

Kini aku hanya menghitung hari demi hari yang terasa begitu semakin cepat. Aku ingin diperjumpaan kita itu, kau dan aku mengukir sejarah kita bersama. Aku ingin kita tak terlupakan di setiap proses untuk bertemu dengan mu. Mungkin tulisan ini hanya mengusir sejenak rasa jenuhku untuk mempersiapkan segalanya bertemu denganmu. Namun, aku berharap, kau menjadi kenangan terindah dan tak terlupakan.
image

Selamat datang januari untukmu, sidang TA!

My First Mountain, Gunung Burangrang :)


puncaaaaak

Hello blog! Minggu tanggal 29 September 2013 kemarin untuk pertama kalinya gue naik gunung sodara-sodara. Whuaaa. It’s so excited! Haha. Awalnya, diajakkin dias, speak-nya anak-anak kontrakkan “kasepers” mau naik gunung, cuma yang gue tau anak-anak kontrakkan yang sekarang punya kesibukkan masing-masing yang padet banget ditambah kita yang emang udah resmi menjadi mahasiswa ehm.. tingkat akhir. Jadi, yaaa bisa disimpulkan bagaimana kesibukkannya lah yaa. Oke, waktu gue denger rencana itu sebenernya agak hopeless juga sih yaa, secara duit di akhir bulan menipis, tapi penasaran juga doong kaya gimana asiknya naik gunung. Target Gunungnya yaitu Puncak Gunung Burangrang di daerah CImahi, 2050 mdpl. Dan gak gue sangka rencana itu jadi, kami ber-9 orang fix berangkat untuk naik gunung yang katanya cocok didaki oleh pemula, terdiri dari 7 orang lelaki yaitu dias, harry, john, zaki, pras, fadlan dan apip, dan 2 perempuan imut yang gak bisa dianggep perempuan gue dan annas.

here we go

pendakian dimulai 🙂

Pendakian dimulai dengan berangkat dari kosan Fadlan jam 5 shubuh dan naik motor. Selanjutnya, kita berhenti di pos Komando, menurut rekomendasi dari blog-blog yang kita baca, pos ini merupakan pos yang paling sering dijadikan starting point untuk mendaki gunung ini karena jalannya cenderung landai dibanding pos yang dekat sekolah tinggi Polri. Well, diantara kita ber-9 emang belum ada yang pernah naik gunung ini sebelumnya dan kita hanya bermodal nekat untuk naik gunung ini. Dan bener aja, Kita nyasaaaar masuk ke arena latihan tembak Kopasus dan akhirnya kita balik lagi ke pos awal, nah pas mau masuk jalur mendaki, kami di hadang sama beberapa bapak kopasus, salah satu bapak dengan muka paling serem nanya, “kalian ngapain ke sini?”. “mau ngedaki ke puncak pak!”. Si bapak dengan muka garang, “kalian gak boleh naik gunung sekarang. Area nya mau dipake buat latihan tembak. Mau kalian kena peluru nyasar?”. Asli waktu denger pertanyaan bapak tentara itu langsung lemes dooong. Yah, gimana niatnya mau have fun malah diancam sama peluru nyasaar coba -.-“ Namun kita gak nyerah, kita balik lagi ke pos awal starting point tadi dan kita minta kejelasan sama petugas perhutani disana, masa iya kita gak boleh naik puncak nya sih. Akhirnya, kita diantarkan sama bapak petugas perhutani buat ngelewatin jalur yang diperbolehkan. Fyuuuh, sempet nanya beberapa kali sih, apakah jalur ini aman dan jauh dari arena latihan tembak kopasus karena ngeri juga lah yaa kena peluru nyasar :3

nyasaaar

nyasar ke area latihan tembak kopasus -.-

Dan kami pun bisa melanjutkan perjalanan mendaki gunung Burangrang. Diawal pendakian bisa dibilang lancar jaya, walaupun satu jam pertama diwarnai dengan insiden nyasar mentok jurang. Haha. Maklum lah ya, ini judulnya mendaki gunung modal nekat. :p Namun, Alhamdulillah kami menemukan jalur yang benar yaitu menuju puncak. Jadi,kita ber-9 ini bukan anak gunung, jadi yaa semua referensi kita naik gunung ini kalo gak dari blog-blog dan nanya-nanya temen yang udah pernah naik gunung. Menurut salah satu referensi kita, Gunung Burangrang ini merupakan gunung yang cocok untuk para pemula yang ingin mendaki gunung karena lintasan nya yang LANDAI. Nah! Jadi kita ber-9 begitu semangat lah ya denger kata Landai artinya kita yang pemula ini bisa dong ya naik ke puncak. Well, track awal pendakian memang cukup landai, namun makin ke atas dan ke atas, bagi saya yang jarang banget olahraga, track nya cukup menguji fisik dan mental gue untuk menaklukkan puncak ini. Haha. Lebay sih. Tapi, emang itu yang gue rasakan dan jujur ya sempet ditengah ngerasa gak sanggup buat mendaki lagi karena kaki yang emang udah lemes banget, namun dalam hati gue selalu bilang, kalo gue gak boleh kalah, gue pasti bisa! Dan mereka selalu nyemangatin gue buat terus jalan. thank you so much guys :’)

gak boleh nyerah!

pokoknya gak boleh nyerah!

with dyas

ini yang ngajakin kebo buat naik gunung, Thank you dias 🙂

Dan akhirnya sampai ke puncaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!! Seneng bangeeeeettttt! Mungkin bagi pendaki yang udah pro, Gunung Burangrang gak ada apa-apanya, tapi bagi gue ini adalah hal yang menakjubkan buat gue, karena gue ternyata bisa menginjak Puncak gunung ini. Terimakasih banget buat yang memberikan kesempatan gue untuk ikut ke dalam perjalanan yang gak akan gue lupakan. Dan sampai di puncaaaaaak 😀 *lutut lemes*

hello burangrang

welcome at Puncak Burangrang :’)

ber-9 at puncak burangrang

Happy birthday lek 😀

kebo di puncak

keboo :3

*Photo was taken from Apip :)*

Cerita dari Dua Sahabat

Kamis malam kemarin saat mati lampu, saya dikejutkan oleh sebuah berita duka cita bahwa ayahanda dari sahabat kuliah saya –rindi- meninggal, mengingat kejadian ini sangat mengejutkan bagi saya karena saya sempat mendapat kabar bahwa kondisi ayahnya sudah membaik. Namun, ini lah rahasia Allah yang gak ada siapapun tau kapan maut menjemput.

Mendengar berita ini, seakan saya kembali lagi saat saya kelas satu SMK, saat itu saya bertemu dengan Ami yang sampai kini tetap menjadi sahabat saya dan dia juga harus mengahadapi kenyataan bahwa dirinya harus siap hidup tanpa seorang ayah dan hal tersebut mungkin berat bagi anak manapun tanpa terkecuali karena kasih sayang nya yang harus didapatkan harus minus kehadiran sang ayah. Saya masih belum bisa membayangkan jika saya berada di posisi mereka, namun apa yang saya bisa lakukan, melarang malaikat maut untuk mencabut nyawa orang tua saya? Jangan konyol ayyu! Itu lah maut, mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, maut akan datang tepat pada waktunya sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan mutlak oleh Sang Pencipta Kehidupan di dunia ini.

Persamaan yang saya temui dari kedua sahabat ini, yaitu mereka gak menangis! Well, saya memang gak tau apa yang terjadi di luar jangkauan saya, namun mereka tampak begitu tegar untuk menghadapi hal yang paling ditakuti oleh seorang anak, kehilangan ayah untuk selamanya. Mereka bisa tersenyum walaupun saya masih menemukan kehampaan yang terselip di mata mereka. Namun, saya saluut dengan betapa bijaknya mereka tetap memberikan senyum disaat hati yang sedang sedih.

Sahabat..

Mungkin hal ini adalah ujian yang sangat berat bagimu..

Namun, ikhlaskanlah..

Maka, tanpa kau sadari langkahmu akan lebih ringan..

Semoga ayahanda diberikan tempat terindah di sisi-Nya..

Aaaargh. Saya terlalu sering menampik kenyataan ini, saya selalu berpikir bahwa semua akan baik-baik saja, semuanya akan sesuai dengan apa yang ada di benak saya hingga berita kamis malam tersebut menampar saya. Ayyu.. Wake up! Suatu saat saya harus menghadapi hal yang sama cepat atau lambat.

Kampus ku, Riwayat mu kini :(

Pada saat perjalanan pulang menuju kosan dari TBI kemarin, saya dikejutkan oleh ini. See this!

ini ada pas tepat mauk gerbang kampus saya.

ini ada pas tepat masuk gerbang kampus saya. (gambar diambil dari sini)

Saya kaget. 😐 Yak, ternyata sebegitu cepatnya kampus saya, Institut Teknologi Telkom(ITT) atau lebih dikenal dengan nama dulu STT Telkom, sudah begitu cepatnya bertransformasi menjadi sebuah universitas, Telkom University. Sedikit cerita tentang Telkom University ini, jadi cerita nya pengen jadi World Class University -niat agungnya-, serta universitas ini merupakan hasil peleburan gak hanya dari kampus saya aja, tapi ada juga IMT, STISI, dan Politel.

Tulisan ini saya buat karena saya ingin bercerita aja sih tentang kampus saya tercintah. Awalnya, saya memang gak terima atas perubahan yang serba dadakan yang dilakukan oleh pihak yayasan yang menaungi kampus saya. Kalo dibandingkan sama kampus sebelah -tinggal cap cip cup aja diantara kampus yang saya sebutkan di paragraph sebelumnya hihi-, kampus saya itu mahasiswa nya masih seragam dong atasan kemeja putih dan rok/celana biru, makanya kampus saya disebut kampus putih biru. Sebenernya, saya merasakan beberapa keuntungan selama saya menggunakan seragam kampus saya ini, jadi masih gak rela aja seiring perubahan status kampus saya menjadi universitas ini, maka hilang juga tradisi pakai seragam ini.

Keuntungan pertama memakai seragam itu adalah bayar angkot murah padahal udah tuek gini. Dulu waktu saya ikut les di LIA, saya kan pp naik angkot. Nah, kebetulan ongkos biasanya duaribu sampai tujuan, nah waktu itu saya bayar sesuai tarif dengan pecahan dua ribuan supaya gak usah kembalian, tetapi ternyata si abang angkot ngasih kembalian seribu perak. Saya Cuma bisa melongo dan abis itu mesem-mesem sendiri. Mungkin si abang angkot ngira saya anak sekolah kali ya. Yaudah deh ya, rejeki saya berarti pas lagi pake seragam kampus dan punya tampang imut ala abege labil. Haha.

Selain itu, another benefit saat memakai seragam kampus, yaitu bagi para wanita cuek penampilan -alibi miskin variasi baju- kaya saya, seragam ini sangat membantu saya untuk gak usah repot milih baju apa yang pengen dipake buat kuliah di tiap harinya karena dari hari ke hari tetap sama, seragam putih biru. 😀 Pernah ada kejadian agak sangat jorok menurut saya, jadi waktu itu saya kehabisan seragam buat ke kampus karena masih di cuci sama bibi cuci, walhasil saya pake seragam yang saya gunakan kemarin, bekal semprat semprot parfum sana-sini. Voila, seragam wangi dan gak keliatan seragam yang saya pakai kemarin. Wong looks seragamnya sama aja lah ya, seragam putih biru. Pernah juga sharing cerita sama temen-temen SMK pas jaman-jaman nya baru masuk kuliah, waktu itu temen saya cerita gitu lah ya kalo doi rada bingung mix and match baju buat ke kampus. Sorry to say, itu gak berlaku buat saya. *ditimpuuuk ayam goreng*

ceritanya sudah terbebas dari praktikum fisika, narsis boleh dong ya.. :p

ceritanya sudah terbebas dari praktikum fisika, narsis boleh dong ya.. :p

Hmm. Mungkin disini saya hanya melihat dari hal sisi seragam aja terlepas dari berbagai pertimbangan saya mengapa saya kurang setuju sama terbentuk nya Telkom University ini. Entah kenapa pembentukkan Telkom University ini terkesan premature dan tergesa-gesa hingga masih gamang aja ketika saya ditanya, “kuliah dimana?”, maka saya akan diem sebentar dan berpikir, jawabnya Telkom university atau masih ITT ya? Haha. Well, karena saya ini orang nya susah banget move on, jadi saya jawab, “saya kuliah di ITT” 😀

Sherina – Sebelum Selamanya

 

Hei coba dengarkanlah harapan aku ini

Sebelum kita lanjutkan mimpi kita bersama

Hei coba pandanglah jiwa yang bertanya ini

Sebelum kita lanjutkan kisah yang berlangsung selamanya

Jaga hati yang ku serahkan untukmu

Jangan lupa rasa jatuh cinta pertama kita

Dan tali asmara yang kan diuji waktu

Woohooo.. Saya lagi suka lagu nya Sherina – Sebelum Selamanya. Awal waktu dengerin lagu ini, Saya merasa aneh aja ketika sherina bawain lagu genre begini dan menurut saya cocok juga dengan jenis suaranya Sherina. Oia, Video Clip nya juga oke dan terkesan ringan, entah kayanya saya pernah nonton model video clip kaya begini tapi saya lupa videoklip apa. Hehe. Kalo bicara soal makna, duh yang itu bisa di skip aja kali ya. Haha.

Well, Enjoy. 😀

Intinya sih nonton TV!

Tadi malem, waktu gue didedikasikan buat menonton acara di salah satu stasiun TV Swasta yaitu Net TV mulai dari jam 7 pm sampai 10 pm. Kenapa begitu lama? Karena acara nya bikin gue gak bisa gerak dari depan tv, selain karena iklan nya itu hanya promosi acara (macem TV kabel banget)jadi bentar banget dan acara nya emang baguuuuuus dana lama banget buat jeda iklannya, jadi gak kepotong-potong terlalu pendek acaranya.

Pertama, gue nonton suatu acara “We Sing For You” di Net. Acara ini macemnya masuk ke jenis Reality Show. Kalo yang udah pernah nonton acara Mobbed di StarWorld, nah acara ini sama persis banget ya konsep nya, yaitu bikin surprise berupa Flashmob gitu. Dan disitu si anak pengen bikin kejutan ke ibu nya karena selama ini udah merawat dia walaupun si anak ini adalah anak angkat, pas bagian si anak mengucapkan terimakasih ke si ibu nya itu, okelah gue terenyuh, tapi ternyata ada misi rahasia yang diselipkan di acara tersebut, yaitu sang ibu kandung anak tersebut menitipkan pesan lewat video untuk anak tersebut, yang gue ingat hanya potongan kalimat, “…nak, ketahuilah Bi Ida (si ibu kandung) memberikan mu kepada ibu mu karena ibu ingin engkau hidup lebih layak dari Bi ida…”. Well, gue tiba-tiba teringat seorang sahabat lama yang kurang lebih kasusnya sama, bahwa dia mengetahui bahwa dirinya anak angkat, dan suatu saat ibu kandungnya datang untuk mengunjunginya. Nah, mungkin ini jawaban yang baru bisa gue kasih ke sahabat gue satu ini, ibu lo pengen hidup lo lebih layak!

ini episode Mobbed yang paling gue suka, lamaran sekaligus nikah saat itu juga. Gilak gak loh.. haha

Nah, setelah itu, gue beranjak ke kamar mandi, dan gue liat ada next acara nya gitu, film korea, judulnya, “Good Morning Presiden”. Well, gue penasaran, karena judulnya sih yang unik. Nah, ceritanya seputar 3 karakter Presiden yang dikupas sisi kehidupan lainnya di film ini.

Pertama, diawali kisah Presiden Kim Jung Ho yang mau mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden. Namun, ada rahasia yang ia pendam sebagai Presiden, bahwa beliau memenangkan undian Lotre dan hal tersebut terkendala untuk mencairkan uangnya, karena mungkin gengsi dong ya dan gak bisa sebebas itu mencairkan uang secara doi ini kan Presiden. Nah, setelah bergalau ria, akhirnya si Presiden Kim ini kaya curhat gitu sama si Chef Istana, Jang Ki Soo. Dan dengan jujur dan simple Jang ki Soo ini memberikan pendapatnya sebagai Rakyat Biasa. Apa itu? Tonton film nya aja lah ya :p

Kedua, this is it! Yang bikin mata saya segerrr.. Presiden paling muda dan ganteng diantara ketiga Presiden, yaitu Presiden Cha Ji Wook. Duren, Duda Keren, beranak satu ini merupakan presiden termuda saat itu dan sebenernya doi naksir sama anak perempuan nya Presiden Kim. Nah, pemerintahan pada masa Presiden Cha diuji seputar pertahanan keamanan Negaranya, melibatkan Amerika, Jepang, dan Korea Utara. Nah, gak sampai disitu, ternyata ada satu warganya  yang awalnya saya kira warga tersebut adalah seorang psycho ternyata, dia minta tolong kepada Presiden Cha buat menolong ayahnya si warga ini. Dan untuk masalah yang satu ini, Presiden Cha berkonsultasi dengan si Chef Jang. Well, Keputusan apa yang ditentukan oleh Presiden Cha untuk kedua masalah ini? Tonton aja yak. :p

Dan terakhir. Presiden Han kyung Ja, yak dia adalah presiden wanita. Konflik terjadi seputar perannya sebagai Presiden dan sekaligus Ibu Rumah Tangga. Pada saat itu, muncul isu korupsi terhadap Presiden Han dan hal ini disebabkan karena suami nya melakukan jual beli tanah dengan salah satu pejabat Negara, nah sehingga kasus ini berbau politik banget lah ya. Akhirnya si suami karena merasa bersalah, menalak istrinya, sang Presiden, di jamuan makan malam kenegaraan. Gilak gak tuh? Presiden Han berpendapat, aku hanya ingin rakyatku bahagia, walaupun diriku tak bahagia saat ini. Tapi, apa ya kira-kira pendapat Chef Jang? *penasaran* :p

Menurut gue, film ini asik dan cukup recommended lah ya buat ditonton, kita harus mengerti bahwa Presiden juga memiliki sisi humanis mereka. Mungkin kita sebagai warga nya menuntut ini itu dan masih banyak hal lainnya. Namun, terkadang kita juga lupa bahwa dia juga manusia sama kaya kita, butuh buat dirinya sendiri gak Cuma ngurusin Negara aja. Ada kutipan dari Chef Jang juga sih di akhir film yang kena banget.

Presiden merupakan orang yang benar-benar spesial, tapi terkadang kita lupa bahwa sukacita, duka dan bahagia mereka sama dengan kita – Jang Ki Soo, Chef Dapur Istana, Good Morning President.