Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Accidentally!

Weekend, it’s time to pulang kampung, Ayyu back to Kuningan! Haha. Setelah semalam gagal pulang kampung karena tiba-tiba mamang (re: paman sebutan dalam bahasa sunda) ga jadi jemput karena satu dua lain hal, akhirnya saya memutuskan untuk naik bus dengan plan sebagai berikut : naik bus primajasa ke bandung, terus lanjut naik bus damri tujuan ke kuningan. Kenapa gak langsung naik bus dari cikarang cus ke kuningan? Naik apa? Luragung? Wah, terimakasih saudara-saudara, saya cukup sekali naik bus penantang nyawa seperti itu. Cukup sekali. Haha.

Bandung, aaargh kangen banget. Gimana gak? Semenjak saya lulus dari kampus tercintah, saya sudah jaraaaang ke kota penuh kenangan. Kalo kata pidi baiq, Tuhan menciptakan Bandung saat tersenyum, itu bener banget karena memang banyak kenangan manisnya. Dan itu yang bikin saya ga pernah bisa move on dari Bandung. Dan waktu kuliah, saat melewati jalan riau, saya selalu bercita cita ingin punya rumah di Bandung, pengen banget.

Pagi ini dimulai perjalanan menuju Bandung dengan Primajasa.  Cuaca saat itu cerah dan hangat, aah saya semakin gak sabar untuk menyapa Bandung kembali.  Dan finally, saya menginjakkan kaki di Bandung, hmmm saya hirup udara Bandung sepuas mungkin, hingga saya tersadar ada seseorang yang menjemput saya, Browny.

“mau kemana kita”

“pokoknya yang gak ada di Jakarta dan sekitarnya”

“i know, Tahura!”

Sejujurnya, saya belum tau, ada apa di Tahura? Oiya, bagi yang belum tahu tahura itu apa? Tahura adalah singkatan dari Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, untuk lebih jelas nya bisa googling yah. Haha.

Hmmm.. Udara di Tahura ini bener-bener suegerr banget. Sejuk dan suasana nya masih alami banget. HIJAU. Menurut saya, ini cocok banget buat wisata keluarga, kenapa gitu, karena untuk hiking bareng, seru banget. Apalagi banyak spot yang bisa dikunjungi. Dan saya sarankan, please use your comfort shoes for hiking. Karena track nya lumayan jauh antar satu spot dengan spot lain nya, jadi kebayang misal pake sepatu yang ada heels nya sedikit aja, siap siap aja betis berkonde. *aman untuk perjalanan kali ini, saya menggunakan sepatu yang tepat*

Di awal masuk, sudah disediakan semacam papan informasi untuk memberikan info seputar spot-spot apa yang tersedia di tahura ini. Dan untuk trip tahura kali ini, spot utama yang ingin kami kunjungi yaitu “Penangkaran Rusa”. Here we go!

Nah, untuk menuju spot penangkaran rusa ini, kami melewati Goa Belanda. Gelap. Haha. Sepanjang menelusuri goa ini, pengap yang terasa di tempat yang konon katanya pernah digunakan sebagai penjara. Sepanjang perjalanan menuju tujuan utama kami, sejujurnya saya gak terlalu percaya sama info kilometer yang harus kami tempuh untuk sampai di spot tertentu karena bagi kami, terasa lebih jauh atau memang faktor “u” yang sudah melanda kami, terlalu lemah berjalan jauh. Haha.

Dan sampailah di Penangkaran Rusa.  Jika dilihat, penangkaran rusa disini, sebenernya gak dibuka untuk umum, maksudnya pure penangkaran rusa dengan penjaganya. Dan pada awal masuk, bapak penjaga nya baik hati menawarkan kami, untuk masuk dan memeberikan makan langsung kepada para rusa mini ini. Btw, bagi kalian yang udah pernah ke penangkaran rusa di Ranca Upas. Kalo disini, rusa-rusanya ukuran nya lebih kecil dibandingkan dengan di Ranca Upas. Dan menurut saya untuk berinteraksi dengan rusa langsung, disini lebih manusiawi  karena rusa nya lebih jinak dan kalem , beda dengan rusa di Ranca Upas, liat wortel dikit langsung nyosor aja. Hihi.

Well, Terimakasih Tahura sudah menjadi short beauty escape di Bandung.  I miss you, Bandung.

img_20160910_105224

Penangkaran Rusa Tahura

20160910_105043

Hello blogger wordpress, Hello from me!

img_20160910_104929

it’s time to feeding!

img_20160910_104842

Makan yang banyaaak yah!

20160910_104608

Disaat yang lainnya sibuk makan, rusa yang satu ini anteng banget..

img_20160910_100145

ini pintu masuk Goa Belanda

img_20160910_144439

Thank You Browny telah menjadi partner jalan-jalan dan “abang uber” di Bandung 🙂

[Fan Fiction] Lia dan Dilan

Sebenernya ga tau sih, ini termasuk fan fiction atau gak? haha. Karena emang pengen nulis semacem cerpen, tapi ga tau mau pake nama tokohnya siapa. Jadi berhubung saya habis baca novel trilogi nya Dilan dan Milea, akhirnya nama tokohnya saya comot (re: ambil). Hmm, pure banget ini iseng ditengah saya kerja di weekend seperti ini, jadi pasti cerita ngalor ngidul ga jelas. Dan rasanya sayang aja kalo ga di posting. Hehe *banci posting*

***

Lia, perempuan, 24 tahun, Quality Engineer di salah satu perusahaan multinasional company. Hari ini otaknya hampir meledak karena issue yang sedang happening mengenai handphone series terbaru yang defect nya bisa lolos hingga market dan ini serius.

“Yaa.. Lia ada email dari HQ. Haish! Follow Up segera! Pali-pali (cepat-cepat)”, teriak Mr Kim yang mulai panik karena sejujurnya issue ini sudah mencoreng citra perusahaan yang katanya merajai pasar gadget di seluruh dunia. Bagaimana tidak, handphone yang digadang-gadang menjadi produk unggulan kini, ternyata battery nya bisa meledak di costumer. Ini gila.

“OK sir”, gusar Lia. Dia tidak begitu suka ketika bos yang langsung di import dari korea ini mulai disergap rasa panik berlebih. Maka pelampiasannya yaitu kroco level staff seperti Lia ini.

Info tambahan mengenai Lia, she’s still single dan jangan tanya tentang jodoh. Kok orangtua gak nanyain sih? Hampir setahun terakhir ini Lia memutuskan jarang pulang ke rumahnya, karena bosan ditanya kapan kawin.

***

Ditengah analisis data quality outgoing yang sudah membuat kepala mau pecah, ada pesan masuk di handphone yang sudah mulai banyak sarang laba-laba saking sepinya,

“Lia”

Dilan? Ada Apa yah? Lia tersenyum sejenak saat membuka pesan dari sahabat kuliahnya dan memang sudah lama  mereka tidak bertemu karena Dilan bekerja di Jakarta.

“Hey”

“Lagi dimana?”

“Biasa lah. Dimana lagi cuy! Masih terjebak gue di kota penuh polusi pabrik”

“Gue di Cimahi”

What? Dilan di Cimahi. Goodnews.

***

“Lia, draft quality meeting sudah?”

“siap bos! Monggo check dulu emailnya! Hihi”

“oh, udah kirim yaaa.. haha.. sorry sorry”, Pak Fandi, supervisor favorit Lia. Pak Fandi ini sangat berjasa buat Lia karena dari beliau Lia bisa belajar banyak hal yang sebenarnya pekerjaan ini tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan Lia sebelumnya. Namun, Pak Fandi dengan sabar menjadi mentor Lia selama menjadi karyawan baru.

Tiba-tiba ada pesan masuk di handphone Lia,

“Lia.. Meet up yuk hari ini”

“Hmm. You know, gue di bojongsoang, mobil ga ada, pacar ga punya, dan tinggal di daerah pinggiran. Huhu”

“Haha. Oke, kita meet up yaa? Pulang kantor dari Cimahi gue meluncur ke sana ya.”

Lia tersenyum sinis. Mana mungkin ada manusia normal yang mau pergi dari Cimahi ke Bojongsoang hanya untuk sekedar meet up. Belum lagi jarak yang harus ditempuh jauh sekali dan macetnya yang ga akan pernah ada obatnya.

“Lia, dimana?”

“Heh? Seriusan ke sini? Kirain bercanda. Haha”

Dilan, selalu menjadi seseorang paling nyaman buatnya. Pertemuan awal mereka saat tingkat satu, mereka bergabung di sebuah organisasi bidang pengembangan masyarakat. Awal pertemuan mereka, Lia dan Dilan sama-sama mencalonkan menjadi koordinator di divisi yang sama. Dan mereka semakin dekat karena segudang kegiatan sosial yang menjadi projek bersama mereka.

***

Lia selalu senang jika bertemu dengan Dilan, karena pasti ada kejutan yang akan diceritakan oleh masing-masing. Mereka memiliki alasan kenapa momen meet up selalu jadi hal yang paling ditunggu-tunggu. Lia senang disamping Dilan karena selalu mau mendengarkan cerita A-Z yang mungkin tidak bisa diceritakan Lia dengan mudah kepada siapapun. Begitupun Dilan, selalu suka sosok Lia yang selalu riang dan menghangatkan suasana.

“Lia, Gue mau nikah bulan depan”, Dilan memecah keheningan.

“HAH? Bercanda lo HAHAHA”, masih menganggap apa yang diutarakan Dilan itu hanya sekedar candaan.

“Bahkan diri Gue sendiri aja ga percaya kalo bulan depan Gue kawin. Hahaha.”, Dilan menatap keluar mobil, matanya terlihat berkaca-kaca.

Lia memeluk Dilan. “Gue belum pernah tau sih, gimana posisinya jadi lo. Semoga ini bisa membuat lo nyaman ya!”

“Lia, I Love you”

“Ssst.. Just Relax, This is the outside of the world! Haha”, kedip Lia.

Lia menyadari ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Dilan. Lia harus melepas Dilan.

Dilan, I Love you too..