Penolakan

Mengahadapi penolakan berkali-kali itu mungkin terlihat biasa. Namun, percayalah rasanya sungguh ga enak. Iya, saya patah hati. Saya hanya bisa tertegun ketika nama saya tidak tertera pada hasil tahap akhir seleksi di suatu perusahaan yang saya inginkan. Tak terasa hangat di pipi mengalir begitu saja ketika saya menyatakan maaf kepada kedua orangtua saya. Karena saya tau ada rasa sedih disana.

Masa seperti ini seperti turning point saya untuk menyatakan bahwa saya tidak boleh kalah dengan keadaan. Saya harus tunjukkan bahwa mereka itu rugi tidak memilih saya karena mereka kehilangan orang cemerlang seperti saya. Haha. Ah, itu hanyalah sisi harga diri saya yang tidak terima menghadapi sebuah penolakan. Klasik.

Bagaimanapun juga, saya hanya ingin membahagiakan dan selalu membuat orangtua saya bangga atas segala hasil usaha saya. Mungkin ini memang bukan jalan yang terbaik buat saya, bahkan bisa jadi saya memang belum siap jika keinginan saya tersebut terkabul dengan seperangkat konsekuensi dan resiko yang akan saya hadapi di masa yang akan datang. Semangat Ayuk!

dp-bbm-allah-memberikan-apa-yang-kita-butuhkan-01

Gambar diambil dari siniĀ 

Advertisements

Sabtu Bersama Bapak

Minggu ini saya menghabiskan waktu untuk membaca novel, Sabtu Bersama Bapak. How lovely it is. Gak tau suka banget sama novel ini. Give me another point of view tentang pasangan masa depan. Oke kalo masa kini jangan ditanya yaah. Awalnya saya berpikir bahwa pasangan ada untuk saling melengkapi kekurangan kita. And usually we call it as JODOH.

Pasangan itu terdiri dari dua orang yang solid dan saling menguatkan, bukan saling melengkapi kelemahan, dan menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing. Oke, sampe sini saya berpikir, well.. make sense, terlebih Taylor Swift pernah bilang, two is better than one. Haha. Seperti halnya, jika 3 dikurang 3 maka hasilnya akan menjadi 0, dan kamu hanya menghabiskan waktu sia sia dengan pasangan tanpa pencapaian apapun. Berbeda dengan jika 3 dikali 3 sama dengan 9. Is it more powerful right? And in the end, ditutup dengan quote dari Oprah Winfrey, Find someone who complementary not suplementary. Aaah, you are too sweet, Adhitya Mulya.

Novel ini juga menyampaikan tentang betapa pentingnya pendidikan karakter anak di usia emas. Anak tidak pernah meminta dilahirkan dari orangtua dengan latarbelakang seperti apa, sehingga hal itu semua menjadi tanggung jawab yang sangat penting bagi orangtua untuk mengantarkan anaknya di puncak kejayaannya nanti. Di zaman dimana kesetaraan gender yang sangat dijunjung tinggi, termasuk saya, yaitu perempuan berhak untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan puncak karir terbaik. Beberapa alasan pernah kita notice kenapa wanita ikut berkarir di luar rumah, menabtua perekonomian keluarga? Pengakuan diri? Namun, apakah bisa membentuk karakter anak di usia emas hanya dengan memantau perkembangan, memastikan apa saja yang dilakukan anak kita yang dipercayakan kepada baby sitter yang belum tentu sepenuh hati menjaga anak kita. Sampai pada bacaan itu, saya bertanya pada diri sendiri : would I be the best mother that my child ever had in the future? *Cari jodoh dulu ayuuuk, okesip*

sinopsis-dan-resensi-buku-sabtu-bersama-bapak

gambar diambil dari sini