Inilah cara-MU menuntunku, TAKDIR

Takdir. Kini ia bermain-main dipikiran ku dan sudah lama sekali aku tak menganggapnya ada, karena selama ini, aku berencana dan aku medapatkannya. Egois dan terkesan ambisius tentang apa yang terbentuk dipikiran ini tentang impian, tujuan dan target hidupku selama ini.

Aku baru menyadari, selama ini apa yang aku inginkan dengan sungguh-sungguh pasti aku dapat sehingga aku bisa memprediksi apa-apa saja yang bisa aku capai. Sombong, ya terkesan angkuh dalam memandang hidup ini. Berpikir segalanya bisa aku capai dengan kapasitas yang ada pada diri ini. Hingga suatu fase dimana aku merasa kerdil, terpojok dan tak mampu menatap dunia, hanya mampu bersujud dan menyadari diri ini yang begitu kufur akan nikmat-Nya. Dan ketika takdir mulai memainkan perannya dalam kehidupan ini, aku terombang-ambing dalam pusaran kegagalan yang terus bercokol di pikiran hingga sampai keluar di mulut ini, “aku tak berguna”.

Sejak kecil aku selalu mendapatkan apa yang aku mau dengan usaha, aku tak terbiasa untuk merengek dan meminta manja kepada orangtua, aku harus punya dasar kenapa aku menginginkan apa yang aku mau. Jika realistis maka aku mendapatkannya, jika tidak jangan harap, sampai aku guling-guling di tanah, aku tak kan pernah mendapatkannya. Hal tersebut terus berjalan dan bergulir hingga aku lulus kuliah. Pasti setiap perjalanan hidup seseorang ada ujian dan cobaan, namun hal tersebut mampu aku hadapi dengan pemikiran dan sikap yang telah terlatih dari kecil. Aku kuat.

Waktu terus bergulir, hingga aku ditempatkan di suatu perusahan yang baru berumur dua bulan, yang liciknya walaupun perusahaan ini baru namun mega projek sudah ditangan, namun karena keterbatasan modal mereka hanya mneggaji para karyawannya dengan gaji UMR, alasannya kemampuan kami dianggap low skill. Harga diriku pun merasa tercoreng, karena aku menganggap pengalaman dan ilmu ku bukan masuk standar low skill. Aku keluar.

Hingga saatnya tiba sebuah peluang sangat besar datang, aku bersemangat dan kali ini aku yakin bisa. Perusahaan BUMN yang diidamkan oleh banyak orang, aku menyisihkan dari ratusan alumni di kampusku sampai tahap akhir seleksi. Aku mempersiapkan semua secara matang dan melakukan beberapa pendalaman materi terkait perusahaan dan apa-apa saja yang mesti dipersiapkan. InshaAllah aku siap. Dalam penantian, datanglah sebuah kesempatan untuk bekerja di sebuah vendor yang terkenal dengan jam kerja yang diatas rata-rata serta penghasilan yang sangat besar untuk kami ukuran freshgraduate, namun aku menolaknya dengan lantang. Karena aku yakin, aku pasti lolos BUMN tersebut.

Penantian itupun datang, dengan penuh percaya diri aku buka pengumuman resmi di website perusahaan tersebut, dan nama ku tidak ada. Tidak ada tulisan nama, “AYYU AGHNIATY”. Aku tak percaya, aku scroll ke atas lagi untuk meyakinkan bahwa pasti terlewat saat membaca. Dan kenyataan nya aku dinayatakan “TIDAK LOLOS”. Seakan dunia runtuh. Aku sudah tak bisa menangis karena sesungguhnya ini lebih dari sakit hati yang biasa, kesombongan itu pun tertawa terbahak-bahak karena dia berhasil membuat ku terjerembab dalan jurang yang paling dalam. Ini titik terendahku.

Aku tidak mengerti tentang permainan takdir macam apa yang disajikan dalam cerita hidupku. Pikiran tentang bayang-bayang kegagalan pun membuat kepala ini pening. Lulusan cumlaude ditolak mentah-mentah oleh sebuah BUMN yang mendirikan universitas yang selama ini tempat aku belajar? Sedangkan temanku yang biasa-biasa saja saat kuliahnya, dia diterima. Semua membuat ku kehilangan semangat dan rasa percaya diri. Sinar harapan itupun mulai pudar dari mata ini. Tak ada lagi ambisius, tak ada lagi plan, tak ada lagi rencana dengan target setinggi-tinggi nya dan tak ada lagi keyakinan akan pertolongan-Nya.

Inikah cara-Mu? Aku pun bersujud dihapan-Mu ditengah malam yang setiap harinya membuat aku terjaga. Terjaga akan masa-masa suram yang akan kuhadapi kelak setelah ini. Aku sudah tak punya keinginan apa-apa lagi untuk diriku sendiri Ya Allah, Aku hanya ingin membahagiakan kedua orangtua ku. Karena aku tahu, ketika mereka melihatku dalam posisi seperti ini, mereka lebih sakit dan tersiksa karena gagal membuat anak nya tegar dan kuat. Dan aku pun bermain sandiwara dihadapan mereka, sehingga mereka hanya tahu, aku anak yang pantang menyerah dalam berusaha.

Dan sekarang aku terdampar di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang manufaktur yang selama ini tak pernah terlintas untuk bekerja disini karena jauh dari bidang pendidikan sebelumnya. Begitulah takdir, ia tak hanya menetapkanmu namun menuntunmu perlahan. Akhirnya aku merasakan fase mencintai seseorang dengan melihat orang kita cintai bahagia, rasanya hati ini damai sekali melihat mamah dan bapak terus memberi semangat dan tersenyum optimis bahwa anaknya adalah yang paling berharga yang pernah mereka miliki. Terimakasih atas semua pelajaran hidup yang telah Engkau goreskan dalam ceritaku ini.

Advertisements

14 thoughts on “Inilah cara-MU menuntunku, TAKDIR

  1. di antara cerita tentang pekerjaan… terselip kalimat ini yang mengundang perhatian saya …. “Akhirnya aku merasakan fase mencintai seseorang dengan melihat orang kita cintai bahagia.”

    dan memang begitulah takdir

    • Iyaaa bang :’) mungkin mas sebagai orangtua sudah merasakan fase cinta seperti itu ya 🙂

      Kita ga akan pernah tau, kejutan apa dikehidupan ini yg akan dihadirkan kelak 😀

  2. hhmmm peluk dulu cini Ayuuu {}
    Perjalanan takdir mmng kaya gitu Yu dan aku rasa yang mempunyai perjalanan takdir seprti kamu ini banyak loh, termasuk aku sendiri. Nemplok sana nemplok sini sampai akhirnya betah di perusahaan saat ini tmpt ku bekerja. Anggap ajah itu sandungan, yang jatuh ajah masih bisa bangun apalagi yang cuma tersandung 🙂

    Myb ada yang Allah siapkan dengan menggiring kamu ke perusahaan saat ini, kamu pun beruntung memiliki keluarga yang selalu mensupport.

    Semangat ya Ayu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s