Tarik nafas sejenak

Mungkin memang sudah waktunya saya untuk menarik nafas terlebih dahulu. Saya ingin rehat sejenak dari segala aktifitas yang selama ini saya jalani karena saat ini saya harus fokus pada salah satu list impian saya yang telah saya rancang dari awal saya masuk kuliah di kampus ini.

Masing-masing dari kita punya prioritas dan saya memilih untuk menyelesaikan apa yang selama ini saya kesampingkan, saya ingin membahagiakan orangtua saya itu intinya. Mendengar suara mereka di telpon, membuat saya ingin segera menuntaskan hal yang tertunda ini, saya tidak ingin mengecewakan mereka. Dan saya harap kalian mengerti bahwa saya memilih untuk meninggalkan kalian dan segala kegiatan sementara waktu karena saya ingin menuntaskan janji saya terhadap diri saya sendiri. Mungkin kalian kecewa, namun ini memang keputusan saya dan saya sangat memohon maaf pada kalian.

Huh. Sebenernya sudah lama, gue ingin mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam hati. Mohon maaf yaaa sekali lagi bagi yang merasa sebagai β€œkalian” di tulisan gue ini. Dalam hati ini, gue bener-bener gak enak banget deh ya, karena gue harus meninggalkan beberapa kegiatan yang gue anggap memang menguras waktu, bukan karena gak bermanfaat, beneran deh gue bersyukur banget bisa terlibat langsung untuk memberikan banyak manfaat dengan orang-orang yang ada di sekitar gue, namun ada satu hal yang memang gue harus utamakan dan selesaikan dan itu membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang full. Sejujurnya gue memang bukan tipe orang yang bisa multi-tasking sehingga ketika gue dihadapkan akan banyak pilihan, maka gue akan memilih berdasarkan prioritas utama gue.

timeout

Sekali lagi postingan ini gue buat karena gue ingin mencurahkan uneg-uneg supaya lebih plong dan supaya gue bisa menjelang januari 2014. Amiiiiiin.

Advertisements

15 thoughts on “Tarik nafas sejenak

  1. “Ibarat burung yang terbang. Sesekali ia akan hinggap di batang pohon, di atap rumah, di tiang listrik, atau di mana saja. Ia lakukan untuk mengumpulkan tenaga untuk penerbangan berikutnya. Seperti kereta yang berhenti di stasiun. Umpama pesawat yang mendarat di bandara.

    Begitu pula kiranya dalam menjalani kehidupan. Adakalanya diperlukan untuk berhenti sejenak.”

    dikutip dari : http://wp.me/p3S7a-1B5

  2. Lhoo komentar teteh kamanaaa..?? Pdhl pertama kasih td malam hehe
    Semoga sukses ya Nooon… nanti kembali lagi dengan membawa cerita yg cantik dan penuh senyum bahagia.
    Membahagiakan orang tua memang harus menjadi prioritas utama..
    Sekali lagi sukses buat Non Ayu ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s