Tarik nafas sejenak

Mungkin memang sudah waktunya saya untuk menarik nafas terlebih dahulu. Saya ingin rehat sejenak dari segala aktifitas yang selama ini saya jalani karena saat ini saya harus fokus pada salah satu list impian saya yang telah saya rancang dari awal saya masuk kuliah di kampus ini.

Masing-masing dari kita punya prioritas dan saya memilih untuk menyelesaikan apa yang selama ini saya kesampingkan, saya ingin membahagiakan orangtua saya itu intinya. Mendengar suara mereka di telpon, membuat saya ingin segera menuntaskan hal yang tertunda ini, saya tidak ingin mengecewakan mereka. Dan saya harap kalian mengerti bahwa saya memilih untuk meninggalkan kalian dan segala kegiatan sementara waktu karena saya ingin menuntaskan janji saya terhadap diri saya sendiri. Mungkin kalian kecewa, namun ini memang keputusan saya dan saya sangat memohon maaf pada kalian.

Huh. Sebenernya sudah lama, gue ingin mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam hati. Mohon maaf yaaa sekali lagi bagi yang merasa sebagai “kalian” di tulisan gue ini. Dalam hati ini, gue bener-bener gak enak banget deh ya, karena gue harus meninggalkan beberapa kegiatan yang gue anggap memang menguras waktu, bukan karena gak bermanfaat, beneran deh gue bersyukur banget bisa terlibat langsung untuk memberikan banyak manfaat dengan orang-orang yang ada di sekitar gue, namun ada satu hal yang memang gue harus utamakan dan selesaikan dan itu membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang full. Sejujurnya gue memang bukan tipe orang yang bisa multi-tasking sehingga ketika gue dihadapkan akan banyak pilihan, maka gue akan memilih berdasarkan prioritas utama gue.

timeout

Sekali lagi postingan ini gue buat karena gue ingin mencurahkan uneg-uneg supaya lebih plong dan supaya gue bisa menjelang januari 2014. Amiiiiiin.

Advertisements

Seminar Perkembangan Robotik Indonesia at SMK Telkom Bandung

523511_3730050465407_701119700_n

Seminar Perkembangan Robotik Indonesia @ SMK Telkom Bandung


Kementrian Pengembangan Masyarakat BEM KBM IT Telkom mengadakan Seminar Perkembangan Robotik Indonesia di SMK Telkom Sandhy Putra Bandung, Jalan Radio Dayeuh Kolot Kabupaten Bandung. Seminar kali ini diisi oleh pembicara yang handal di bidangnya yaitu teman-teman mahasiswa dari Laboratorium EIRRG (Electronics and Intelligence Robotic Research Group).

 Seminar yang dihadiri kurang lebih 200 peserta ini bertujuan untuk memotivasi para siswa-siswi SMK ini untuk memiliki keinginan yang besar berprestasi di bidang Robotik baik dalam maupun luar negri, selain itu juga para peserta diberikan wawasan seputar bagaimana perkembangan Robotik di Indonesia dan langkah-langkah strategis apa yang harus dikejar oleh Bagsa Indonesia dan luar negeri. Hal ini sangat diperlukan bagi para siswa kami terlebih untuk membangkitkan motivasi belajar mereka serta mengembangkan diri sehingga saya berharap agar kegiatan Seminar Robotik ini dapa terus berlanjut menjadi salah satu kegiatan ekstrakulikuler di sekolah kami, ujar Kepala Sekolah SMK Telkom Sandhy Putra Bandung, Bapak Daduk Mahardika.

 Seminar ini mendapatkan respon yang positif bagi siswa siswi SMK Telkom Bandung karena pada seminar kali ini mengajak beberapa siswa-siswi untuk maju dan ditantang untuk membuat langsung Robot Line Follower Analog. Langkah awal untuk memulai belajar membuat robot dapat kita mulai dari hal sederhana yaitu Robot Line Follower Analog yang berkerja secara mekanik hanya mengikuti garis hitam yang telah ditentukan jalurnya, ujar Azis, salah satu pembicara pada Seminar Perkembangan Robotik.

 Diharapkan Seminar Perkembangan Robotik Indonesia bagi siswa-siswi SMK Telkom Bandung dapat memberikan suntikkan motivasi untuk memulai langkah mudah awal membuat robot sederhana selain itu dapat membuka wawasan mereka untuk dapat berprestasi dan berperan serta dalam kemajuan bidang robotik Indonesia.

at SMK Telkom Bandung, 16 November 2013

at SMK Telkom Bandung, 16 November 2013

537000_10201262225654670_165634942_n

Suasana saat sesi tanya jawab Seminar

1450911_3730049345379_816871932_n

Merakit Robot Line Follower Analog

1441250_10201262467820724_672869979_n

Seminar Squad : Kementrian Pengmasy, Lab EIRRG dan MC

581526_3730037865092_903062859_n

Foto bersama sebagian peserta seminar

993733_10201262454620394_1963025232_n

Terimakasih SMK Telkom bandung 🙂

Mahasiswa + Masyarakat = Mahasyarakat ?

Sebagai mahasiswa yang jauh dari rumah, tentunya saya harus menyewa sebuah kamar kost. Trend nya kalo di kampus saya itu, kebanyakan kos-kosan mewah yang hanya dijaga oleh satu penjaga kos. Yup, pastinya tau sendiri lah ya, si penjaga kosan hanya sebatas menjaga dari para maling dan kebersihan kosan, tetapi tidak bisa menggantikan posisi orangtua sebagai controlling bagi para mahasiswa unyu-unyu ini. Loh tapi kan mereka udah dewasa secara mahasiswa gitu? Namun, faktanya bisa diliat sendiri lah ya kaya gimana, yang pernah jadi mahasiswa tau pasti deh ya.. atau mungkin mahasiswa di zaman kamu berbeda kali ya..

Well, kali ini saya gak akan bahas tentang beraneka ragam kelakukan mahasiswa alias anak muda –termasuk saya juga loh ya- yang bikin geleng-geleng kepala orangtua dan warga sekitar. Ampuuuuni anakmu ini mah.. Tapi, tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman yang saya alami baru-baru ini. Di akhir November ini, organisasi ,dimana saya aktif sebagai pengurusnya, mengadakan sebuah program untuk masyarakat sekitar, yaitu “Festival Mahasyarakat”. Dari segi nama nya pasti udah pada bisa menebak, acara ini bertujuan untuk melibatkan mahasiswa dan masyarakat secara bersama-sama.

Acara ini dilatarbelakangi oleh sesuatu yang simple sebenernya, interaksi sosial mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus yang sangat kuraaaang. Mungkin ada yang protes, Gak kok, buktinya Himpunan A atau Bem C atau Hima B mengadakan acara bakti sosial rutin, kita juga mengadakan pelatihan ini itu, kita juga mengadakan pengajaran non formal buat adek-adek sekitar dan bla bla bla.. Helloooo.. tapi itu hanya segelintir, coba cung -tunjuk tangan- deh bagi masih merasa mahasiswa, berapa jumlah warga asli sekitar kosan kamu yang kamu kenal? 20 orang? 5 orang? 1 orang -paling bapak kosan-? Atau tidak sama sekali? Miris kan. Iya kenyataan nya memang begitu kok.

Well, kami -saya bersama team- sudah semangat ‘45 untuk mensurvey wilayah mana yang jadi sasaran program kami. Sasaran RW kali ini yaitu ada empat RW dan renacanya untuk malam ini kami mengunjungi dua RW. Nah, disini tantangan nya, kami harus menawarkan program ini semenarik mungkin, mulai dari program lomba kebersihan hingga jalan sehat telah kami jabarkan. Namun, apa tanggapan dua RW tersebut? Yup, mereka dingin. Melihat tanggapan warga seperti itu, puput, salah satu yang termuda di team kami, langsung berubah ekspresinya menjadi sendu dan redup pula semangatnya. Duh.

Hmm, disini lah tantangan kami untuk mendobrak “kedinginan” masyarakat terhadap kami -para mahasiswa- terlebih untuk masalah kebersihan. Saya masih ingat akan tridharma perguruan tinggi yang ketiga, yaitu pengabdian masyarakat. Apa artinya jika seorang mahasiswa berprestasi, pintar, cumlaude, bekerja di perusahaan ternama –sebenernya, doa juga buat saya amiiin-, namun belum pernah bahkan tidak bisa menyentuh lapisan mayarakat paling dasar, yaitu lingkungan sekitar.

Ya, kami harus membuat strategi untuk melakukan “pendekatan” dengan warga sekitar yang merasa bahwa mahasiswa hanya sebagai “pendatanng” saja. Sebenernya, pengen minta saran-saran juga dari blogger, how to melakukan pendekatan dengan masyarakat ya yang efektif? Thank you banget banget untuk apapun sarannya. 😀

***

pengmasy (pengembangan masyarakat) rangers dengan tema kostum Mahasyarakat Indonesia 😀

Sebuah Kisah

Saya ingin bercerita tentang sebuah kisah. Mungkin ini kisah absurd yang gak akan menarik di mata kalian. Tapi, kisah ini nyata, ada di sekitar saya, persis jelas tergambar.

Teman saya ini adalah seorang perempuan enerjik dan selalu ceria, namun saya tau dibalik senyuman dan tawa riangnya dia memiliki sebuah sisi rapuh. Kebiasaan nya adalah memendam rasa sakit dan berusaha melupakan itu semua. Well, untuk sementara waktu rasa sakit dan segala urusan yang membuat kepalanya semakin penuh akan terabaikan dan terlupakan, NAMUN itu hanya untuk sementara waktu.

Teman saya memiliki seorang “kekasih” katanya. Tapi, apakah benar dia dianggap kekasih oleh lelaki yang dia puja-puja selama ini? Saya rasa tidak. Karena berdasarkan kejadian yang saya dengar darinya, lelakinya itu menyembunyikan status diantara teman-teman nya dengan menyembunyikan foto-foto yang menunjukkan kebersamaan mereka disaat teman-temannya berkunjung. Alasan nya klasik,  Sang lelaki ingin melindungi identitas teman saya ini. Yang terlintas di pikiran saya selama ini, memang sejahat apakah teman-teman nya? Apakah mereka akan sampai hati melukai hingga membunuh teman saya ini karena tau sang lelaki bersama teman saya?

Suatu saat ada momen teman saya shock, karena ada seorang wanita lain yang menyatakan suka kepadanya. Tentu saja lelaki ini menolak ajakan sang wanita untuk merajut sebuah hubungan, namun yang membuat shock, sang lelaki menjawab bahwa lelaki tersebut ingin sendiri dulu. Teman saya kaget, berarti selama ini dia dianggap apa, pajangan atau selir yang bisa datang dan pergi kapan saja?

Ah. Namun, teman saya ini bisa berbuat apa, tidak ada yang menguatkan teman saya ini untuk mengatakan keluh kesahnya. Well, mungkin ada beberapa orang yang kisahnya sama, namun teman saya ini tetap saja dengan bodohnya menunggu sang lelaki yang jealas-jelas mengacuhkan nya secara psikis. Mungkin kehadiran sang lelaki yang intens ini mengobati perasaan luka teman saya. Memang kau terlalu lemah untuk urusan ini, teman.

teman

Marriage Isn’t For You

“your marriage isn’t for yourself, you’re marrying for a family”
ah.. andaikan ada lelaki seperti ini..
ah.. sudah lah..

Seth Adam Smith

Having been married only a year and a half, I’ve recently come to the conclusion that marriage isn’t for me.

Now before you start making assumptions, keep reading.

I met my wife in high school when we were 15 years old. We were friends for ten years until…until we decided no longer wanted to be just friends. 🙂 I strongly recommend that best friends fall in love. Good times will be had by all.

Nevertheless, falling in love with my best friend did not prevent me from having certain fears and anxieties about getting married. The nearer Kim and I approached the decision to marry, the more I was filled with a paralyzing fear. Was I ready? Was I making the right choice? Was Kim the right person to marry? Would she make me happy?

Then, one fateful night, I shared these thoughts and concerns with my dad.

Perhaps each…

View original post 594 more words