Cerita dari Dua Sahabat

Kamis malam kemarin saat mati lampu, saya dikejutkan oleh sebuah berita duka cita bahwa ayahanda dari sahabat kuliah saya –rindi- meninggal, mengingat kejadian ini sangat mengejutkan bagi saya karena saya sempat mendapat kabar bahwa kondisi ayahnya sudah membaik. Namun, ini lah rahasia Allah yang gak ada siapapun tau kapan maut menjemput.

Mendengar berita ini, seakan saya kembali lagi saat saya kelas satu SMK, saat itu saya bertemu dengan Ami yang sampai kini tetap menjadi sahabat saya dan dia juga harus mengahadapi kenyataan bahwa dirinya harus siap hidup tanpa seorang ayah dan hal tersebut mungkin berat bagi anak manapun tanpa terkecuali karena kasih sayang nya yang harus didapatkan harus minus kehadiran sang ayah. Saya masih belum bisa membayangkan jika saya berada di posisi mereka, namun apa yang saya bisa lakukan, melarang malaikat maut untuk mencabut nyawa orang tua saya? Jangan konyol ayyu! Itu lah maut, mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, maut akan datang tepat pada waktunya sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan mutlak oleh Sang Pencipta Kehidupan di dunia ini.

Persamaan yang saya temui dari kedua sahabat ini, yaitu mereka gak menangis! Well, saya memang gak tau apa yang terjadi di luar jangkauan saya, namun mereka tampak begitu tegar untuk menghadapi hal yang paling ditakuti oleh seorang anak, kehilangan ayah untuk selamanya. Mereka bisa tersenyum walaupun saya masih menemukan kehampaan yang terselip di mata mereka. Namun, saya saluut dengan betapa bijaknya mereka tetap memberikan senyum disaat hati yang sedang sedih.

Sahabat..

Mungkin hal ini adalah ujian yang sangat berat bagimu..

Namun, ikhlaskanlah..

Maka, tanpa kau sadari langkahmu akan lebih ringan..

Semoga ayahanda diberikan tempat terindah di sisi-Nya..

Aaaargh. Saya terlalu sering menampik kenyataan ini, saya selalu berpikir bahwa semua akan baik-baik saja, semuanya akan sesuai dengan apa yang ada di benak saya hingga berita kamis malam tersebut menampar saya. Ayyu.. Wake up! Suatu saat saya harus menghadapi hal yang sama cepat atau lambat.

Advertisements

22 thoughts on “Cerita dari Dua Sahabat

  1. turut berduka ya untuk temanmu itu.
    memang tidak ada yang dapat menduga tentang semua ini…
    yang penting kita berikan yang terbaik agar tidak ada sesal nanti.

  2. Memang berat kok ditinggal ayah pergi itu, bahkan, belum tentu waktu akan menyembuhkan luka itu. Semakin lama waktu berlalu, kadang perasaan kangen itu semakin besar. Saat meraih sebuah prestasi kita bertanya-tanya, “kalau Ayah masih ada di sini, beliau bakal bangga gak ya sama aku?”, saat susah kita juga bertanya-tanya, “Kalau Ayah masih ada di sini, apa yang bakal beliau lakuin untuk menghadapi kesusahan ini ya?”. Kangen itu akan selalu ada. Sakit itu selalu membekas. Tapi di situlah, hati dan iman kita yang akan berperan. BTW Ayyu jangan terlalu yakin hal itu pasti akan menimpa Ayyu loh, kita tak pernah tahu usia orang, termasuk usia kita sendiri. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s