Another “Home Sweet Home”

Alhamdulillah.. Yup, itu adalah kata yang menggambarkan sebagai rasa bersyukur saya yang masih diberi kesempatan untuk mudik ke Kuningan. Yup, mudik kali ini memang agak gak biasa bagi saya, karena saya harus mudik bersama adik saya, Nurul. Dia sekarang sudah menyandang predikat sebagai mahasiswi disalah satu perguruan tinggi di Bogor. Banyak orang yang tak mengira bahwa dia bisa masuk ke jurusan analisis kimia, namun she can prove it. Good Job, dear!

As you told before, saya ingin menceritakan tentang kampung halaman saya. Well, saya memang baru pindah ke kuningan, sekitar tiga tahun yang lalu. Hal ini disebabkan oleh bapak saya yang dimutasikan kerja oleh perusahaan tempat beliau bekerja, Cirebon. Kenapa kami tidak memilih untuk pindah ke Cirebon? Selain karena Cirebon itu panas dan gersang, hal lainnya yaitu karena di Kuningan itu adalah kampung halaman mamah saya dan masih ada nenek dan aki waktu itu. Alhamdulillah, keluarga kami masih diberi kesempatan untuk lebih dekat dengan nenek dan aki. Namun, baru lebaran tahun ini tidak ada aki 😦 , aki dipanggil oleh-Nya. Semoga aki tetap bahagia ya di sana. Jadi, nenek saya adalah nenek satu-satu nya yang saya miliki, karena embah atau orangtua dari bapak saya sudah lama tidak ada. Semoga mereka bisa bertemu di surge-Nya. Amin.

Sebelumnya saya tinggal dimana? Bekasi. Pasti tau bekasi kan yaaa? Tau dong, itu loh yang terkenal sama Bantar Gebang nya *entah ini harus bangga atau nggak -.- *. Tapi, Untungnya, saya gak tinggal disitu yaa. Ya, that’s why ketika orang bertanya saya berasal dari mana, dan saya jawab kuningan, dan orang tersebut kebetulan orang sunda dan langsung menimpali dengan obrolan sunda, maka yang saya lakukan hanya bisa tersenyum manis, karena bahasa sunda saya masih taraf pasif, artinya saya hanya bisa mengerti saja. Hehe. Loh tapi kan kebo kuliah di Bandung? Haduuuh. Jangan ngarep deh ya, saya inget banget waktu tahun pertama masuk asrama, saya ditempatkan dengan teman sekamar yang berasal dari Semarang, Surabaya, dan Pati, waktu itu satu kamar isi empat orang. Walhasil, awalnya mamah saya mengira anak nya pulang dari Bandung bisa cas cis cus ngomong bahasa sunda, adanya mamah saya bingung, saya malah ceplas ceplos bahasa jawa. I’m sorry, mah! Haha.

Back to the topic, seperti saya janjikan kepada dua tante kece, tante nonik dan tante nella, serta temen-temen WP yang masih banyak lagi, kaya iye aja nih kebo.. Pengen tau situasi dan kondisi dari rumah saya. Sekedar cerita aja sih, beda tipis sama berkeluh kesah. Hahaha. Lingkungan rumah saya sekarang itu berbeda 180 derajat sama rumah saya sebelumnya di Bekasi. Yah walaupun bekasi itu tidak bisa dianggep Jakarta, namun setidaknya yang mamah saya rindukan adalah suasana nya yang gak pernah sepi. Sedangkan di kuningan ini, haduuh. Pas adzan magrib, udah sepiiii banget, gak bakal bisa nemu orang lalu lalang kecuali emang terpaksa banget kali ya untuk keluar. Karena disini sudah menjadi kebiasaan untuk tetap di rumah ketika hari telah gelap. Saya stress gak sih? Yup, saya yang di kampus dan di bekasi itu memang ON nya pas malem, agak serba salah dan ini kok gini sih ya? Dan saya pernah nyoba untuk bandel keluar pas sore dan pulang malem hari, dan itu memang suasananya serem sodara-sodara apalagi pas jalan ke rumah saya, karena rumah saya termasuk jajaran rumah MEWAH (MEpet saWAH) jadi, penerangan disini miniiim banget. Jadi, saya sangat sarankan untuk tidak bepergian keluar pada malam hari, karena gelap, adanya nanti nyusruk ke sawah.

Namun, saya bersyukur juga sih, ketika orangtua saya pindah kesini, karena rumah ini lebih layak untuk dihuni dan lebih menenangkan saya ketika balik ke rumah dan memang suasana pedesaan ini yang saya rindukan tiap di Bandung. Walaupun Bekasi tetap tak akan pernah terlupakan karena disitu selama 18 tahun saya tinggal tentunya memori itu akan tersimpan rapih, Kuningan akan menjadi rumah yang memberikan sisi yang tidak dapat diberikan oleh rumah kami di Bekasi. Kalo inget pindahan rumah saya ini, saya jadi teringat akan pindahan blog saya dari MP ke WP. Hehehe.

Well, Langsung aja cekidot yaa sist gan untuk foto-fotonya mungkin karena foto-fotonya banyak jadi saya gabungin beberapa foto jadi satu foto biar cepet uploadnya hehe πŸ˜€ Enjoy!

edit satu

pemandangan saat fajar menjelang. dingiiiin.

edit lima

kali ciambar – entog dan ayam yang biasa berkeliaran mencari makan

edit dua

jalan-jalan pagi di sawah dan bertemu dengan pak tani beserta kebo nya yang sedang membajak sawah πŸ™‚

edit tiga

me with my beloved sister and cousin :*

edit enam

depan teras rumah, dinda & me, abdal yang ngambek gegara laper *ngegemesin*

Β 

Advertisements

34 thoughts on “Another “Home Sweet Home”

  1. Di kampung halamanku juga masih banyak sawah, Yu.. tapi udah nggak pernah lagi deh, liat bajak kerbau di sawah. Kemaren mudik pengen banget liatin bajak kerbau ke anak2, eh nggak kesampean. Kerbaunya udah diganti traktor. Huhuhu…

  2. Duh, baru bisa bersilaturahim lagi nih di rumah mayamu Kebo. Suasananya enak, tuh Bo. Pengen ke sana..he. Dingin pasti, ya. Hamparan sawah, gunung, ada kebo lagi bajak lagi, kirain lagi mandi..hi. Moga aki dan mbahnya bahagia di sana, ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s