Happy Milad Aa Pudin :*

Happy milad aa Pudin. miss you so much :* Gimana rasanya milad di akhirat sana? :’)

Tanggal 23 Juli 2013, jam menunjukkan jam 1 malam, Melihat TL twitter sudah ramai dengan ucapan hari anak nasional, tiba-tiba saya teringat akan seseorang yang miladnya bertepatan dengan hari anak nasional, aa Pudin. Aa Pudin merupakan singkatan dari nama sebenarnya yaitu Fuad Awaluddin karena berasal dari sunda, mungkin huruf f itu berubah menjadi P, lahir dari pasangan berumur jagung waktu itu  bapak Wasuri dan ibu Yet Ru’yat. Sangatlah bahagia karena aa Pudin ini merupakan anak pertama dari pernikahan mereka, bayi lelaki tampan menjadi harapan besar bagi mereka.

Keihklasan dan kesabaran yang tak terbatas menjadi senjata orangtua kami untuk menerima kenyataan aa Pudin tidak normal seperti anak pada umumnya, ia memiliki kelainan down syndrome. Hal itu masih tabu dan pencerdasan pada orang-orang zaman itu masih minim sekali.  Maka mereka dengan ringannya menyebut aa Pudin dengan “idiot”, tau apa mereka tentang aa saya? Jelas mereka lebih idiot dengan memanggil aa saya seperti itu. Namun, jelas yang paling kuat adalah ibu saya. Saya teringat tentang potongan memori yang masih saya simpan, saat itu kami anak kecil sedang berkumpul bermain, saat itu saya dan aa pudin juga ikut bermain, tiba-tiba datanglah tukang odong-odong (tukang yang dengan gerobak+full music anak+sepedanya mengangkut anak-anak untuk berkeliling komplek dengan membayar sesuai tarifnya), waktu itu kami antusias untuk naik wahana permainan itu, namun ketika aa pudin ingin naik, dia dicegah oleh si abang odong-odong, saya bilang itu saudara saya, namun si abang tetap mencegahnya ikut, padahal jelas masih ada bangku kosong untuknya, saya bergegas turun dan bilang ke ibu saya. Dan ibu saya berujar kepada si abang tersebut, “bang, jangan pernah abang membedakan anak-anak , ini anak saya bang, pasti saya akan bayar, kalo memang tidak mau menganggkut anak saya,abang silahkan gak usah lewat jalan komplek ini”, ibu saya memang tidak menunjukkan ekspresi marahnya, namun kekecewaanya tidak bisa disembunyikan bahwa anak nya dibeda-bedakan, saya hanya bisa terdiam dan setelah itu si abang gak pernah lewat depan rumah saya lagi.

Saya bangga memiliki aa saya, namun ada masa khilaf saya yang membuat saya tertampar saat ini. Pada awalnya saya malu, karena ada beberapa tetangga sepermainan saya yang meledeki aa saya, ketika saya bermain dengan mengajak aa saya, mereka berujar, “ udahan yuk mainnya, ada aa nya ayyu!”, saya hanya bisa nangis kepada mama saya, dan saya juga pernah mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya, “mama, ayyu dijauhin temen-temen ayyu, kenapa sih ayyu punya aa kaya gitu?” sambil terus menangis. Waktu itu memang begitu egoisnya saya mengucapkan kata seperti itu, tanpa tau betapa sakit hatinya ibu saya waktu mendengar ucapan itu dari mulut saya sendiri, namun bagaimana aa pudin? Ya, aa pudin tidak bisa bicara dan mendengar dengan baik, namun saya tau iya kecewa dengan saya, saya yang harus menjadi benteng pertahanan dia untuk menghadapi anak-anak nakal itu, namun saya terlalu rapuh dan lemah.

Ketulusan hati aa pudin memang tak ada yang bisa menandingi, hatinya begitu putih dan polos. Ibu saya pernah bercerita, betapa antusias nya aa pudin waktu memiliki seorang adik, saya. Kebiasaan waktu kecil saya sekitar usia 1-3 tahun adalah mengompol di kursi tamu, entah kebiasaan darimana itu, namun saat aa pudin melhat saya melakukan seperti itu, ada dua hal yang dia lakukan, pertama dia menaruh kain lap untuk mengelap ompol saya dan yang kedua dia langsung menggeret saya ke mar mandi, dan setelah itu dia baru melaporkan kepada ibu saya.

Saya merasakan bahwa aa pudin menjadi kakak bagi saya, beliau memenuhi tugasnya sebagi seorang kakak walaupun tak sesempurna kakak pada umumnya, namun hal-hal kecil yang masih teringat di memori saya ini masih terekam jelas. Saat ada tukang jajanan atau tukang bakso, pasti aa pudin langsung membawa 2 mangkok atau membeli 2 porsi jajanan dan selalu memberikan kepada saya. Teirngat saat hanya saya dan aa pudin di rumah, dan kami ingin bermain di luar, aa saya memiliki kebiasaan untuk mematikan tv dan semua lampu yang ada di rumah. Nah, apa yang saya lakukan? Saya hanya melenggang keluar karena ingin bermain, betapa dewasanya aa pudin untuk seusia itu.

Tidak hanya disitu, rupanya Allah memang terlalu sayang sama aa pudin, hingga akhirnya aa pudin sakit karena memiliki kelainan pertumbuhan tulang di saluran sum-sumnya, itu yang menyebabkan akhir-akhir ini dia tidak tampak seceria biasanya, namun ia tidak pernah mengeluh ketika dalam keadaan sakitnya ia disuruh mamah saya untuk pergi ke warung. Aa pudin tetap saja semangat, hingga kami sekeluarga diberitahukan bahwa  aa pudin harus dioperasi dengan segala resiko yang ada.

Tiga bulan kemudian, setelah keluar dari rumah sakit, Aa Pudin lumpuh, yuk. Itu kata-kata yang keluar dari bapak saya, saya hanya bisa terdiam, saya gak tau harus bagaimana lagi saat itu. Namun, kesabaran dan ketidakputus-asaan orangtua saya yang ingin agar aa saya bisa berjalan kembali hingga ke pengobatan alternatif juga ditempuh. Disaat saya melihat keletihan tergurat di wajah kedua orangtua saya, aa Pudin tetap bisa tersenyum dan menyanyi dengan riang dengan lagu favoritnya dari Tina Toon yaitu “bolo-bolo” dan lagu lainnya yang tak pernah saya paham apa yang aa pudin nyanyikan, namun yang hanya saya pahami, aa pudin ikhlas dengan keadaan yang ia jalani.

Pada bulan April 2010, aa saya dipanggil Allah Swt. Saya hanya bisa menangis dan menyesali bahwa saya tidak bisa menjadi adik yang baik buat aa saya, saya terlalu egois untuk memikirkan diri saya sendiri. Aa pudin, mungkin saat ini hanya kata maaf dan doa dari adikmu ini agar kau bahagia di sisi-Nya. Aku selalu merindukanmu aa pudin. Terimakasih telah menjadi bagian hebat dari diri saya, engkau adalah anak yang terindah yang dimiliki orangtua kita aa. Aku sayang kamu, aa Pudin.

Fuad Awaludin (23 Juli 1990 – 18 April 2010)

Advertisements

26 thoughts on “Happy Milad Aa Pudin :*

  1. Aku jadi mellow deh, sampe nangis dikit, hehe
    Semoga kamu gak akan pernah kehilangan kasih sayang dihatimu buat Aa Pudin 🙂
    Insya Allah Aa kamu juga akan tenang di sana…

  2. Terharu bacanya… juga punya adek sepupu kayak aa nya ayu, sudah almarhum juga, meninggal umur 9 tahun (kalo mbak gak salah). Yang sabar ya, ayu tetep bisa jadi adek terbaik buat aa dengan kirim doa terus. Ammiin 🙂

  3. ya allah.. mata ku langsung berkaca2.. sedih..
    allah ga pernah menciptakan apapun tanpa maksud, Aa kamu hebat.
    aq dari dl pengen banget punya kaka cowo tp ya emang ga pernah ditakdirkan punya sodara kandung cowo.. Masa mo protes 😛
    salam ya untuk bapak dan ibu 🙂 *sok sksd*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s