antara menulis, kebahagiaan, dan terapi

Holla.. senang bisa posting di wp lagi.. tanpa saya sadari wp ini memang telah membantu saya banget nget melewati hari-hari sulit saya.. ceileh.. haha.. Hal ini baru saya sadari sore ini, ketika ada teman yang bertanya, “yu, kok gak galau-galau lagi? Haha”. I know seminggu kemarin emang saya begitu lemah dan menye-menye ala sinetron Indonesia yang bercerita tentang anak tiri yang gak dikasih makan sama ibu tirinya tiga hari. Dan saya mengalami juga loh, sakit demam 3 harian gitu sampe setiap mau tidur itu bawaannya mewek mulu. Tapi, disitu saya berusaha gak terlihat lemah, walaupun emang gak bisa dipungkiri saya kadang nge-tweet sampah galau ala anak abege gak bisa ngikutin trend zaman sekarang. Kalo kata mba zie, itung-itung tiap malem maskeran airmata, khasiatnya bikin muka keliatan kinclong. Hihihi.. sudah terbukti di postingan nya mbak anziel. Hihi :p

Back to the topic, saya bersyukur banget karena saya terdampar di wp ini, walaupun pada awalnya saya gak bisa move on dari multiply, namun ternyata sekarang disini saya merasakan lebih indah, nyaman, dan menyenangkan. Sebenernya, saya sudah lamaa banget gak pulang ke rumah dan saya baru bisa pulang H-7 lebaraan, kebayang dong kangennya kaya jerawat yang udah mateng minta dipencet deh. Namun, wp ini kaya pengisi kangennya saya sama keluarga saya, disini saya bisa mengobati kangen saya dengan membaca posting-posting yang ada di list reader saya.

Selain membaca posting temen-temen di wp, saya juga mencoba untuk gak mau kalah doong sama yang lain. Hihi. Karena memang itu lah sifat saya , gak mau kalah sama orang. Namun, saya baru menyadari dari sifat saya yang kata orang nyebelin itu, saya menemukan sesuatu saat saya selesai menulis, yaitu saya merasakan sebuah kebahagiaan yang mungkin itu lebay bagi orang yang terbiasa menulis, namun bagi saya ini adalah sebuah pembuktian bahwa saya bisa mengalahkan rasa malas saya, moody, dan sok-sibuknya saya.

Dan ternyata ada lagi yang baru saya sadari lagi, yaitu “menulis itu terapi”. Kutipan tersebut awalnya, saya dengar dari pak BJ Habibie di acara just alvin di metro tv. Pada waktu itu, beliau sangat terpukul oleh kepergian sang istri, saking terpukulnya jiwanya juga ikut terguncang dan sang dokter menawarkan dua pilihan kepada beliau untuk memulihkan keadaannya seperti semula, yaitu dirawat secara intensif di rumah sakit jiwa atau menulis. Dan beliau memilih pilihan yang kedua, dia menuliskan setiap detail kisahnya bersama bu ainun, dan ternyata sodara-sodara  setelah beliau menuliskan seluruh kisahnya itu beliau dinyatakan sembuh dan menelurkan sebuah buku keren berjudul “Habibie dan Ainun”, dan juga filmnya. Awalnya, saya hanya bergumam “ooh.. gituu” sampai saya mungkin di kondisi seperti ini, yah walaupun gak separah pak habibie, namun saya mencoba untuk jujur menuliskan apa yang saya rasakan dan saya alami. Dan terbukti, tanpa saya sadari, saya bisa melewati ini dengan lebih cepat, namun tetap saja bagi saya, kehadiran keluarga, sahabat, dan wp yang menjadi penyempurna dari terapi pemulihan kondisi saya sekarang. Terimakasih untuk semuaaa.

Dan satu hal lagi, Allah pasti punya skenario terindah  untuk hamba-Nya..

Advertisements

23 thoughts on “antara menulis, kebahagiaan, dan terapi

  1. waduh…saya disebut2 juga.
    wah… si mbak mah enak cuma 3 hari. saya berbulan2 malah :p

    eh,tapi nggak ding. habis posting d blog numpang 3 hari yg lalu,saya udah ga galau juga kok 😀
    padahal berbulan2 yg lalu saya nulis juga.
    tapi faktor sahabat,teman dan saudara yang membaca tulisan kita ikut bantu dlm terapi itu ya,mbak? hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s